Event

Sentilan Putri Jogja dan Makna Tradisi Sedekah Laut

Putri Jogja angkat bicara soal tradisi sedekah laut. Media diminta jangan menyimpulkan sendiri.

Rendy Adrikni Sadikin

Sejumlah nelayan telah menaikkan gunungan untuk kemudian dilarung di Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gununungkidul, Senin (8/10/2018). (Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara)
Sejumlah nelayan telah menaikkan gunungan untuk kemudian dilarung di Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gununungkidul, Senin (8/10/2018). (Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara)

Guideku.com - Perusakan properti ritual sedekah laut di Bantul ternyata memantik tanggapan dari putri Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono (HB) X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu.

Melalui akun jejaring sosial Twitter, @GKRHayu, GKR Hayu menyinggung soal tradisi sedekat laut yang dinilai sebagai wujud syirik oleh oknum pelaku perusakan properti acara tersebut.

GKR Hayu mengkritik media yang dinilai ngawur ketika menulis artikel sehingga menyimpulkan. Tidak disebutkan artikel mana yang dimaksud oleh GKR Hayu.

''Mas mas media yang tadi datangnya telat ke Sarasehan Makna Labuhan. Nulis artikele ra waton lho ya. Nek ra ngerti aja nyimpulke dhewe (nulis artikelnya jangan ngawur lho ya. Kalau tidak mengerti, jangan menyimpulkan sendiri--RED),'' tulis akun @GKRHayu.

Pun GKR Hayu memberikan cuplikan doa dari sosok bernama Mas Ngabdul Wahab, anggota Kanca Kaji Selusin, perkumpulan yang beranggotakan 12 orang yang ditunjuk oleh Sri Sultan HB X untuk melakukan doa-doa dalam setiap kegiatan Kraton.

Menurut GKR Hayu, inti dari kegiatan Keraton Kesultanan Yogyakarta itu hanya ada tiga: bersyukur, memohon dan bersedekah. Semua ditujukan untuk Allah SWT.

''Nih tak kasih satu cuplikan dari Mas Ngabdul Wahab, kanca kaji selusin yang tugasnya doa di dalam @kratonjogja. Kegiatan Keraton intinya hanya 3: bersyukur, memohon, dan sedekah. Semua doa ditujukan kepada Gusti Allah,'' cuit akun @GKRHayu.

GKR Hayu memastikan hal ini tidak akan menjadi yang terakhir kali. ''Seperti yg tadi saya sampaikan ke pengunjung... Sarasehan seperti ini tidak akan menjadi yang terakhir kali. TTY akan terus menyajikan info & narasumber valid, online dan offline. Tp kami tetap butuh support kalian. Mohon saran, kritik, dan kesediaan share kalian,'' kicau akun @GKRHayu.

Bahkan, dalam kesempatan itu, GKR Hayu mengajak admin Pemerintah Kota Jogja dan Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta untuk menggelar sekaten tapi tidak hanya sekadar pasar malam. Melainkan, ada pameran warisan budaya.

''*colek para mimin @PemkotJogja & @Disbud_DIY*. Pas Sekaten besok yuk bikin area khusus dan luas utk Pameran Warisan Budaya Takbenda (lagi). Jadi biar isinya Sekaten bukan cuma pasar malam aja,'' cuit akun @GKRHayu.

Menanggapi kicauan GKR Hayu, ada seorang netizen yang menulis di kolom komentar. Dia mengusulkan agar upacara Keraton menggunakan istilah-istilah yang 'njawani', sehingga tidak memicu salah paham.

''Sekedar usul Gusti, mungkin utk upacara2 adat baik yg dilakukan kraton maupun masyarakat, mungkin perlu ditekankan dg istilah2 yg njawani. Terutama dimasyrkt banyak muncul istilah2 yg mengakibatkan salah pemahaman. Misal istilah "Sedekah laut" dsb.(kmd dihub2 dg agama),'' tulis salah seorang netizen.

Usulan tersebut dijawab oleh GKR Hayu. Menurut dia, sebelum negara Indonesia ada, upacara sedekah laut itu dinamakan Hajad Dalem Labuhan.

''Kalo dr @kratonjogja sejak zaman sebelum Indonesia ada namanya juga udah Hajad Dalem Labuhan,'' terang akun @GKRHayu.

Dirusak oknum bercadar

Hendak ditunaikan, ritual sedekah laut di Pantai Baru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (13/10/2018), batal digelar.

Sejumlah properti dalam acara tersebut dirusak oleh gerombolan bercadar pada Jumat tengah malam. Perusakan properti tersebut dibenarkan oleh Tuwuh (48), seorang nelayan Pantai Baru.

Mereka merusak gapura tempat acara, meja, dan mengobrak-abrik kursi tamu yang sudah tertata rapi. ''Pakai cadar, nyacah bonggol [mencacah penjor] otomatis bawa senjata tajam," kata Tuwuh seperti diberitakan Harian Jogja—jaringan Suara.com.

Setelah itu, pelaku memasang spanduk bertuliskan, ''Kami menolak Semua Kesyirikan Berbalut Budaya Sedekah Laut atau Selainnya.'' Menyaksikan peristiwa itu, Tuwuh tak bisa berbuat banyak. Dia ketakutan.

Makna sedekah laut

Guru besar ilmu sejarah dan kebudayaan Islan dari UIN Sunan Kalijaga, Profesor Amin Abdullah, mengatakan perusakan properti sedekah laut di Pantai Baru adalah bentuk intoleransi dan main hakim sendiri. Menurut dia, sedekah laut di Bantul itu sebagai simbol rasa syukur.

''Sedekah laut itu simbol. Simbol rasa syukur dengan cara berbeda,'' kata Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1995-2000 itu dalam dialog Membangun Toleransi dalam Bingkai Kebhinekaan itu, seperti dikutip dari Harian Jogja--jaringan Suara.com.

Menurut Amin, Islam mengajarkan saling menghormati dan saling memahami.

''Bukan asal mengklaim paling dan asal benar. Persoalan mengenai agama muncul manakala diselipkan permainan politik. Sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah toleransi aktif,” ucap dia.

Amin optimistis masalah tersebut bisa diatasi karena daya tahan kultural dan sosial masyarakat DIY dalam menjaga toleransi cukup baik.

''Di era sekarang ini, cara berpikir dalam menyikapi apa pun, termasuk agama, harus fleksibel. Orang harus mengutamakan aspek fleksibelitas untuk tidak saling menghakimi,'' ucap dia.

Berita Terkait

Berita Terkini