Food

Mengungkap Fakta Kelam di Balik Perdagangan Hiu Indonesia

Hidup para hiu ini tak seindah hidup konsumennya

Galih Priatmojo | Amertiya Saraswati

Ilustrasi Perburuan Hiu (Pixabay/sjswarts)
Ilustrasi Perburuan Hiu (Pixabay/sjswarts)

Guideku.com - Perdagangan hiu bagai sebuah topik tabu yang sengaja dihindari masyarakat. Sebagian memilih untuk pura-pura tidak tahu, sementara yang lain masih mengejar nikmatnya kuliner dari hewan purba ini.

Terlebih, perdagangan hiu di Indonesia merupakan sesuatu yang menguntungkan. Pasar Ikan Tanjung Luar di Lombok Timur adalah contohnya. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang satu ini dikenal sebagai tempat menjajakan ikan hiu.

Di TPI Tanjung Luar, kehadiran para pengepul yang hendak membeli hiu sudah tak asing lagi. Mereka tampak bersemangat, apalagi ketika musim Imlek tiba. Saat itu, permintaan ikan hiu semakin meningkat.

Namun, meski bisnis perdagangan hiu merupakan sesuatu yang menguntungkan, sudahkah kamu tahu fakta-fakta yang ada di baliknya?

Dirangkum Guideku.com dari laman BBC, berikut ini beberapa fakta miris di balik perdagangan hiu yang mengundang pro-kontra.

Fakta Kelam Perdagangan Hiu (twitter.com/AleZ2016)
Fakta Kelam Perdagangan Hiu (twitter.com/AleZ2016)

 

Hiu jadi tangkapan utama para nelayan

Di Tanjung Luar, hiu rupanya sudah menjadi komoditas utama. Salah satunya adalah hiu kejen atau silky shark yang masuk ke dalam daftar Apendix II Convention on International Trade of Endangered Species.

Daftar ini berisi hewan-hewan yang terancam punah jika perburuan dan perdagangannya tidak dikontrol.

Sirip hiu menjadi bagian yang paling dicari

Tak hanya di Indonesia, sirip hiu menjadi bahan utama kuliner yang dicari oleh masyarakat internasional.

Maka, tak heran jika pemburu hiu terkadang hanya memotong siripnya semata dan membiarkan hiu-hiu tersebut tergeletak mengenaskan di dasar laut hingga mati.

Fakta Kelam Perdagangan Hiu (youtube.com/Iwan Gustiawan & Daisy Christoffel)
Fakta Kelam Perdagangan Hiu (youtube.com/Iwan Gustiawan & Daisy Christoffel)

 

Belum semua hiu dilindungi

Dari sekian banyak spesies hiu, KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) baru melindungi hiu paus dari aktivitas penangkapan.

Sementara itu, larangan ekspor hanya diberlakukan untuk hiu martil dan hiu koboi.

Sisanya merupakan hiu-hiu yang kerap ditangkap nelayan dan dijual di TPI Tanjung Luar. Bahkan, penjualan itu juga mencapai skala internasional.

Nilai ekspor tinggi menjadi salah satu penyebabnya

Tak bisa dipungkiri, para nelayan memang hidup dari berjualan hiu-hiu tersebut. Nilai ekspor hiu bahkan pernah mencapai Rp 1,4 triliun pada tahun 2017 silam.

Di pasar internasional, hiu dijual dalam bentuk sirip, daging, tulang, bahkan secara hidup-hidup. Ekspor hiu terutama dilakukan ke Cina, disusul Thailand, Hongkong, dan Taiwan.

Sementara di Lombok sendiri, hiu diolah menjadi aneka kuliner seperti bakso, sate, hingga kerupuk.

Fakta Kelam Perdagangan Hiu (youtube.com/Iwan Gustiawan & Daisy Christoffel)
Fakta Kelam Perdagangan Hiu (youtube.com/Iwan Gustiawan & Daisy Christoffel)

 

KKP menyatakan bahwa mereka sudah melakukan upaya perlindungan

Pihak KKP sendiri mengaku jika penangkapan dan perdagangan hiu sudah diawasi.

Asalkan hiu yang ditangkap dan dijual sesuai dengan peraturan, bagi mereka hal itu bukan masalah. Sementara jika penangkapan hiu sudah melebihi kuota, maka mereka akan melepaskannya kembali.

Selain itu, dikatakan bahwa ada jaminan dari pengepul bahwa mereka tidak melakukan perdagangan ilegal.

Meski begitu, populasi hiu tetap terancam

Upaya perlindungan yang dilakukan oleh pemerintah hingga saat ini memang sudah cukup baik. Meski begitu, pemerintah juga perlu mengambil inisiatif lain untuk melindungi hiu.

Terlepas dari upaya perlindungan yang sudah ada, nyatanya organisasi Wildlife Conservation Society di NTB menyebutkan bahwa populasi beberapa spesies hiu telah mengalami penurunan.

Fakta ini diperkuat dengan pengakuan nelayan yang menyatakan bahwa hiu semakin sulit didapatkan.

Padahal, jika populasi hiu menurun dan penangkapan terus dilakukan, maka ekosistem di perairan tersebut lama-kelamaan akan rusak.

Nah, apakah kamu masih berminat untuk mencicipi kuliner ikan hiu setelah membaca fakta-fakta di atas? Meski secara ekonomi menguntungkan, namun bukan berarti kita bisa membiarkan perburuan dan perdagangan hiu berlarut-larut, kan?

Berita Terkait

Berita Terkini