Grup WA Mas Menteri Core Team, Bener Gak Buat Kongkalikong Korupsi Chromebook Era Nadiem Makarim?
guideku.com - Siapa sangka, sebuah grup WhatsApp bernama "Mas Menteri Core Team" kini jadi sorotan publik gara-gara dugaan kasus korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook di Kemendikbudristek. Grup ini disebut-sebut jadi tempat koordinasi awal program digitalisasi pendidikan... padahal, waktu itu Nadiem Makarim bahkan belum resmi dilantik jadi Menteri! Gimana ceritanya bisa sampai ke sini? Yuk, kita bahas satu per satu!
Grup WA "Mas Menteri Core Team": Awalnya Cuma Buat Tim Internal?
Grup WA "Mas Menteri Core Team" dibentuk pada Agustus 2019 oleh Nadiem Makarim, Jurist Tan, dan Fiona Handayani. Tujuan awalnya, kata kuasa hukum Fiona, bukan untuk ngomongin proyek Chromebook, tapi cuma untuk membentuk tim kerja kalau-kalau Nadiem beneran jadi menteri. Dan bener aja, Oktober 2019, Nadiem resmi dilantik jadi Mendikbudristek.
Kuasa hukum Fiona, Indra Haposan Sihombing, menegaskan: grup itu bukan forum pembahasan detail proyek laptop. "Namanya orang baru jadi menteri, ya bikin tim, wajar dong. Tapi bukan buat ngomongin Chromebook secara spesifik," kata Indra ke media.
Tapi Versi Kejaksaan Agung Beda Cerita
Nah, di sinilah mulai panas. Menurut Kejaksaan Agung, pembahasan soal program digitalisasi pendidikan—yang jadi cikal bakal pengadaan Chromebook—udah dimulai sejak grup itu dibuat. Bahkan sebelum Nadiem resmi menjabat! Jurist Tan diduga jadi sosok utama yang mengatur komunikasi, termasuk ngajak konsultan teknologi dari luar, salah satunya Ibrahim Arief (alias Ibam).
Di bulan Desember 2019, koordinasi makin intens. Zoom meeting, diskusi, dan arahan soal sistem operasi pun mulai bermunculan. Ibrahim bahkan mendemokan langsung Chromebook dalam rapat daring. Hasilnya? Laptop berbasis Chrome OS dipilih untuk program digitalisasi 2020–2022.
Siapa Aja yang Jadi Tersangka?
Sampai sekarang, ada 4 orang yang udah ditetapkan sebagai tersangka:
Kejagung bilang, keempatnya kompak melakukan pemufakatan jahat buat mengatur arah program TIK. Mereka disebut juga ikut mengarahkan tim teknis supaya milih vendor yang pakai Chrome OS.
Kerugian Negara: Hampir Rp 2 Triliun!
Proyek pengadaan laptop ini nilainya fantastis, mencapai Rp 9,3 triliun! Tapi sayangnya, manfaatnya nggak sebanding dengan biayanya. Banyak Chromebook yang ternyata nggak bisa dimanfaatkan maksimal, terutama di daerah pelosok yang koneksi internetnya masih pas-pasan.
Baca Juga: Semua Transaksi Bakal Nyambung ke NIK dan NPWP, Aman Nggak Sih Payment ID?
Kejagung mencatat kerugian negara hampir Rp 1,98 triliun, yang terdiri dari:
Fiona Diperiksa 11 Jam, Dicecar 70 Pertanyaan
Fiona Handayani, mantan staf khusus Nadiem, udah diperiksa selama 11 jam sebagai saksi. Dalam pemeriksaan itu, dia dicecar sekitar 70 pertanyaan, termasuk soal isi grup WA, komunikasi sama para tersangka, dan keterlibatannya dalam proyek.
Fiona melalui pengacaranya membantah keras bahwa dia ikut mengambil keputusan pengadaan laptop. "Nggak ada tanda tangan dia. Keputusan itu bukan dia yang ambil," kata Indra.
Proyek Gagal Manfaat, Tapi Jalan Terus?
Sayangnya, meski laptop udah dibeli dalam jumlah besar (sekitar 1,2 juta unit), banyak dari perangkat ini malah nganggur.Alasannya? Chromebook butuh internet stabil, sementara jaringan di Indonesia masih belum merata, apalagi di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Harli Siregar, menyebut proyek ini jelas-jelas disiapkan dari jauh hari bahkan sebelum Nadiem dilantik. Ini jadi sorotan karena seolah program digitalisasi ini udah "dijahit rapi" dari awal.
Siapa Lagi yang Akan Terseret?
Kasus ini belum selesai. Tim Kejagung masih terus mendalami keterlibatan pihak-pihak lain. Publik pun bertanya-tanya, apakah akan ada nama-nama besar lain yang terseret? Dan sejauh mana tanggung jawab mantan menteri dalam proyek yang nilainya triliunan ini?
Satu hal yang jelas, kisah grup WhatsApp "Mas Menteri Core Team" yang awalnya cuma buat koordinasi, sekarang malah jadi babak baru dalam salah satu kasus dugaan korupsi terbesar di sektor pendidikan.