Travel

Festival Obon, Prosesi Upacara Sakral Menyambut Arwah di Jepang

Dijadikan orang Jepang sebagai sarana melepas rindu dengan anggota keluarga yang telah lama meninggal dunia

Dany Garjito | Arendya Nariswari

Festival Obon di Jepang. (Instagram/@japanese_adventure)
Festival Obon di Jepang. (Instagram/@japanese_adventure)

Guideku.com - Tak hanya destinasi wisata Jepang saja yang selalu menjadi sorotan, budaya dan upacara tradisional Negeri Sakura ini juga menarik untuk diulas. Memasuki musim panas, warga Jepang bersiap untuk menyelenggarakan Festival Obon.

Berbeda dari perayaan lain, Festival Obon diselenggarakan untuk mengenang dan menghormati mendiang arwah leluhur maupun keluarga.

Warga Jepang memiliki kepercayaan bahwa dengan Festival Obon, arwah leluhur dan keluarga akan turun ke bumi untuk berkumpul bersama keluarga selama empat hari lamanya.

Festival Obon di Jepang. (Instagram/@laurenawhitty)
Festival Obon di Jepang. (Instagram/@laurenawhitty)

Biasanya Festival Obon ini dilaksanakan pada 13-16 Agustus setiap tahunnya.

Namun beberapa hari sebelumnya masyarakat sudah antusias mempersiapkan segala macam hal yang dibutuhkan untuk perayaan tersebut. Diantaranya pada 12 Agustus, warga membuat Shoryo Uma (kuda arwah).

Bukan kuda sungguhan, kendaraan ini dibuat dari terong dan timun.

Shoryo Uma, kendaraan arwah leluhur di Festival Obon. (Instagram/@hara8bunme)
Shoryo Uma, kendaraan arwah leluhur di Festival Obon. (Instagram/@hara8bunme)

Timun melambangkan kuda untuk dikendarai arwah yang datang ke perayaan, sedangkan terong sebagai lambang sapi yang akan menghantarkan arwah leluhur kembali ke asalnya secara perlahan-lahan.

Setelah itu, biasanya pada tanggal 13, keluarga membuat Ogara yang berasal dari tumpukan rami. Ogara dibakar sebagai tanda atau petunjuk arwah leluhur agar tidak tersesat ketika berjalan menuju rumah mereka.

Di tanggal 14-15 Agustus, keluarga akan mengunjungi makam mendiang keluarga yang telah lama tiada.

Festival Obon di Jepang. (Instagram/@ms.kay.m)
Festival Obon di Jepang. (Instagram/@ms.kay.m)

Di sana mereka melakukan ziarah, membersihkan makam dan memberikannya bunga. Setelah ziarah, keluarga berkumpul dengan para kerabat untuk makan dan mengenang mendiang secara bersama-sama.

Tanggah 16 Agustus merupakan hari terakhir perayaan Festival Obon. Di hari terakhir ini asap dari Ogara kembali dinyalakan seperti hari pertama.

Sebagian wilayah di Jepang juga melakukan kegiatan Shoro Nagashi, yakni ketika mereka mempersembahkan bunga atau lampion ke sungai maupun laut untuk para arwah leluhur.

Berita Terkait

Berita Terkini