Travel

Disulap Jadi Kampung Wisata, Wilayah di Jogja Ini Dulunya Dikenal Kumuh

Empat penyaringan dibuat untuk menahan sampah yang mengalir dari Kali Gajah Wong.

Rima Sekarani Imamun Nissa

Sejumlah pengunjung memberi makan ikan di irigasi yang terdapat di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)
Sejumlah pengunjung memberi makan ikan di irigasi yang terdapat di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)

Guideku.com - Wisata Jogja bukan hanya Malioboro atau deretan pantai indah di pesisir selatan. Banyak pula kampung wisata yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

Memberdayakan lingkungan tempat tinggal perlu dilakukan oleh berbagai pihak dalam suatu kawasan. Di samping pemerintah setempat, warga yang bersinggungan langsung dengan tempat tinggalnya memiliki peranan penting.

Seperti yang terjadi di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, lokasi yang sebelumnya merupakan tempat kumuh dan tak terurus itu, sekarang telah disulap menjadi tempat wisata dengan budi daya ikan nila di aliran irigasi masyarakat setempat.

Salah seorang warga yang juga pengurus komunitas Bendung Lapen, Andi Nur Wijanarko, menerangkan, kawasan tersebut mulai dibenahi pada 10 Februari 2019.

"Sebelumnya memang ini kawasan kumuh. Nah ada aliran irigasi yang dibuat masyarakat untuk mengairi sawah di wilayah Bantul. Karena melewati kampung kami dan banyak sampah hingga sungai menjadi kotor, akhirnya kelompok pemuda yakni karangtaruna Mrican Youth membuat komunitas Bendung Lapen, yang bergerak untuk menangani masalah irigasi itu," jelas Andi saat ditemui SuaraJoga.id---jaringan Guideku.com di kampung setempat, Minggu (9/2/2020) kemarin.

Andi menjelaskan, irigasi yang berada di dekat bendungan aliran Kali Gajah Wong itu punya panjang 50 meter. Sebanyak empat penyaringan dibuat untuk menahan sampah yang mengalir dari Kali Gajah Wong.

Pengurus Bendung Lapen, Andi Nur Wijanarko, memberi keterangan kepada wartawan di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)
Pengurus Bendung Lapen, Andi Nur Wijanarko, memberi keterangan kepada wartawan di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)

"Irigasi ini mengambil air dari kali itu [Gajah Wong]. Jadi tak dipungkiri jika sampah dari sungai akan masuk ke irigasi atau sungai di kampung kami. Nah, melihat sebelumnya banyak sampah, kami berinisiatif untuk membersihkan. Intinya kami ingin mengubah kawasan yang dulunya tak terurus bisa bermanfaat untuk masyarakat Mrican," kata dia.

Pembersihan sendiri dilakukan hampir setiap hari. Secara bergantian pemuda membersihkan sampah yang terjaring di beberapa penyaringan, sehingga keadaan sungai lebih bersih.

Andi menuturkan, sebelumnya sungai terlihat cokelat lantaran lumpur dan minyak mengalir di sepanjang irigasi tersebut. Bahkan saat inisiasi itu dimulai, Andi mengaku, jumlah lumpur tersebut mencapai 50 sentimeter dari dasar irigasi.

Beberapa warga membersihkan sampah yang berada di aliran irigasi di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)
Beberapa warga membersihkan sampah yang berada di aliran irigasi di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)

"Tiap hari kami bersihkan, bahkan musim hujan seperti sekarang jumlah sampah dari aliran sungai lebih deras. Sampah juga banyak yang mengalir. Jadi kami membersihkannya lebih sering, sehari bisa empat hingga lima kali," kata dia menjelaskan.

Tak berhenti di pembersihan irigasi, warga juga sengaja menebar benih ikan nila yang berfungsi untuk membuat hidup habitat sungai seperti pada umumnya.

"Sungai sendiri merupakan salah satu di mana habitat ikan itu hidup. Setelah hampir tiga bulan kami melakukan pembersihan, April 2019 kami menebar benih ikan nila," papar dia.

Sebanyak 100 kilo benih ikan nila disebar ke irigasi dengan lebar kurang lebih dua meter itu. Andi mengungkapkan, selain untuk membuat hidup habitat sungai, nantinya ikan tersebut dikonsumsi warga Mrican.

"Tiap tahun nanti kami panen ikan. Jadi seluruh warga Mrican kami undang untuk menikmati bersama apa yang kami tanam [menebar benih ikan] di sini. Jadi guyub rukun antar warga tercipta dengan hal-hal seperti ini," ungkap dia.

Sejumlah pengunjung memberi makan ikan di irigasi yang terdapat di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)
Sejumlah pengunjung memberi makan ikan di irigasi yang terdapat di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)

Disinggung soal perilaku masyarakat yang masih kerap membuang sampah ke sungai, Andi memastikan bahwa warga sudah sadar akan pentingnya kebersihan sungai. Bahkan, warga dilarang keras mencuci di aliran irigasi tersebut.

"Warga sudah sepakat untuk menjaga irigasi ini terhindar dari sampah rumah tangga. Kami juga melarang keras warga membuang sampah atau limbah rumah tangga ke sini. Warga di sini membuang limbah ke IPAL yang sudah tersedia," katanya.

Andi mengungkapkan bahwa sebelum dilakukan pembersihan, warga Bantul yang sawahnya diairi dari irigasi di Kampung Mrican sempat menolak. Pasalnya, pembersihan tersebut bisa mengganggu pengairan.

"Sebelumnya dapat penolakan dari warga Bantul, tapi akhirnya kami mediasi dan memberikan gambaran dari rencana kami. Saat itu kami coba dan warga Bantul tidak pernah protes sampai sekarang. Hal ini memang untuk kebaikan bersama," ucapnya.

Kali ini kawasan kumuh tersebut menjadi salah satu pilihan masyarakat Kota Yogyakarta untuk berlibur. Selain irigasi yang bersih dengan ratusan ikan nila yang hidup di air irigasi itu, warga juga membangun mainan ramah anak di sebelah aliran irigasi. Bahkan, pot tanaman serta akses jalan dicat berwarna-warni untuk menarik masyarakat berkunjung.

Sejumlah pengunjung berwisata di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)
Sejumlah pengunjung berwisata di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)

Seorang pengunjung asal Bantul, Silvia (34), menjelaskan, pihaknya mengetahui lokasi wisata tersebut dari rekannya yang pernah mengunjungi Kampung Mrican. Bersama anaknya, mereka sengaja mengisi hari libur untuk berwisata.

"Saya tahunya dari teman bahwa ada sungai bagus yang bisa digunakan untuk berlibur. Jadi kami bisa memberi makan ikan dan mengajak anak-anak bermain di taman yang ada. Yang menarik adalah kondisi sungai yang bersih. Apalagi ikan-ikannya terlihat sehat," ungkap Silvi.

Tak cuma Silvi, seorang warga Yogyakarta, Anton Budiarto (38), tak menyangka ada sungai yang cukup bersih di Jogja. Pasalnya, selama dia berkunjung ke beberapa kampung di Jogja, sungai yang mengalir tak terurus dan hanya sebagai sungai biasa.

"Di sini berbeda, jadi masyarakatnya cukup peduli bahwa sungai atau irigasi ini perlu diperhatikan. Uniknya, mereka bisa memanfaatkan untuk pemberdayaan mereka sendiri. Tadi saya lihat mereka makan bersama-sama dengan ikan yang mereka budidayakan di sana," ungkap Anton.

Lurah Giwangan Anggit Syafruddin menerangkan bahwa Kampung Mrican menjadi target pemerintah untuk mengentaskan kawasan kumuh. Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) masuk ke kampung setempat untuk mengubah kampung menjadi lebih bersih.

Warga Kampung Mrican menggelar makan bersama saat panen ikan di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)
Warga Kampung Mrican menggelar makan bersama saat panen ikan di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (9/2/2020). - (Suara.com/Baktora)

"Sebelumnya memang banyak tumpukan sampah di sini. Bahkan orang enggan memberi perhatian ke lokasi ini. Nah saat itu pemerintah datang membersihkan dan membenahi kawasan tersebut. Setelah selesai, masyarakat berinisiatif bahwa lokasi ini tak berhenti hanya sampai pembenahan lokasi. Karena melihat ada potensi, yaitu aliran irigasi yang bisa dimanfaatkan, akhirnya warga berembuk dan menjadikan lokasi ini sebagai kawasan wisata," kata Anggit menerangkan.

Ide yang tercetus dari para pemuda ini, tambah Anggit, dapat menjadi percontohan kampung lainnya untuk memberdayakan atau mengubah lokasi tempat tinggalnya menjadi lebih indah, sehingga generasi muda dapat memberikan manfaat untuk anak cucunya ke depan. (*Muhammad Ilham Baktora)

Berita Terkait

Berita Terkini