Travel

Telisik Keindahan Situs Tempat Pembuangan Akhir Tertua di Dunia

Bukit hijau nan indah dan bersih di pinggiran Roma ternyata dulunya adalah TPA

Silfa Humairah

Monte Testaccio. ( link.springer.com)
Monte Testaccio. ( link.springer.com)

Guideku.com - Telisik Keindahan Situs Tempat Pembuangan Akhir Tertua di Dunia

Bukit hijau nan indah dan bersih di pinggiran Roma ini bukan gundukan bukit biasa. Sekilas, memang gundukan tersebut tampak seperti sebuah bukit biasa. Pada kenyataannya, itu adalah sebuah TPA kuno zaman Romawi.

Tidak hanya itu, gundukan besar itu juga menjadi salah satu TPA terbesar di zaman kuno. Lalu, apa saja sih isi dari gundukan yang menjadi TPA tersebut?

Gundukan ini sepenuhnya terbuat dari amphorae, jenis guci keramik yang digunakan untuk menyimpan minyak zaitun di zaman Romawi. Diperkirakan gundukan bukit ini mengandung 53 juta sisa amphorae minyak zaitun di mana sekitar 6 miliar liter minyak sudah diimpor dirangkum Guideku.com dari Keepo.me.

Sampah Amphorae. (Monte Testaccio | link.springer)
Sampah Amphorae. 

Banyak bejana digunakan kembali seperti untuk pipa saluran dan pot bunga. Patahan amphorae yang ditumbuk dan dicampur dengan beton ini juga banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Namun, guci itu tidak bisa di-recycle karena kandungan minyaknya terlalu banyak dan menjadikannya bau sekaligus lengket. Untuk itu, mereka dibuang di tempat pembuangan sampah.

Menurut para excavator, gundukan tersebut dibangun sebagai rangkaian teras bertingkat. Dinding penahannya dibuat dari amphorae yang hampir utuh diisi dengan pecahan untuk menahan sampah di tempatnya.

Monte Testaccio. ( link.springer.com)
Monte Testaccio. ( link.springer.com)

Amphorae kosong kemudian diangkut ke atas gundukan secara utuh di punggung keledai atau bagal. Lalu dipecah di tempat dengan pecahannya diletakkan dalam pola yang stabil. Air jeruk kemudian disebar di guci yang sudah rusak untuk menetralisir bau busuk minyak.

Monte Testaccio, sebutan untuk gundukan ini, memiliki jumlah amphorae yang besar. Jumlah tersebut menggambarkan permintaan yang sangat besar untuk minyak dari kekaisaran Roma yang pada saat itu menjadi kota terbesar di dunia berpopulasi sebanyak kurang lebih satu juta orang.

Amphorae tersebut sebagian besar masih memiliki segel pembuatnya dan prasasti yang dicap dengan informasi khusus. Seperti berat minyak, tempat pengemasan, sang penimbang, hingga nama eksportir.

Studi prasasti dan komposisi bukit ini menunjukkan bahwa importir minyak zaitun Roma mencapai puncak menjelang akhir abad ke-2 Masehi, ketika sebanyak 130.000 amphorae dibuang di situs ini setiap tahun. Roma juga diperkirakan melakukan impor minyak zaitun per tahun setidaknya sebanyak 7,5 juta liter. 

Berita Terkait

Berita Terkini