Kerja Secukupnya tanpa Extra Mile? Kenali Fenomena Quiet Quitting, Ciri-ciri, dan Cara Menyikapinya
guideku.com - Pernah nggak sih kamu merasa kerja cuma sekadar buat menyelesaikan tugas dan menerima gaji aja? Nggak mau ambil tanggung jawab lebih, nggak tertarik ikut meeting tambahan, dan pulang tepat waktu tiap hari?
Nah, kalau iya, bisa jadi kamu atau rekan kerjamu sedang mengalami yang namanya quiet quitting.
Istilah ini mungkin baru booming belakangan, tapi perilaku seperti ini sebenarnya udah lama banget terjadi di lingkungan kerja. Bedanya, sekarang udah ada istilahnya dan mulai diperhatikan serius oleh perusahaan.
Yuk, kita bahas lebih dalam soal quiet quitting dan gimana cara mengenalinya!
Apa Itu Quiet Quitting?
Quiet quitting bukan berarti seseorang tiba-tiba resign atau keluar dari pekerjaannya secara diam-diam. Bukan juga mereka malas atau nggak mau kerja. Tapi lebih ke arah berhenti untuk "berjuang lebih".
Orang yang ngelakuin quiet quitting tetap menyelesaikan pekerjaan utamanya sesuai deskripsi job. Tapi, mereka nggak mau repot ngambil inisiatif tambahan, ikut rapat yang nggak wajib, atau lembur tanpa alasan kuat. Jadi, mereka cuma ngasih energi sesuai kontrak kerja, nggak lebih.
Konsep ini sempat dibahas dalam artikel Harvard Business Review pada September 2022. Para profesor Anthony C. Klotz dan Mark C. Bolino bilang kalau quiet quitters tetap menyelesaikan tugas utama mereka, tapi mereka mulai menghindari yang disebut citizenship behaviors, kayak lembur, datang lebih awal, atau aktif di meeting non-mandatori.
Ciri-Ciri Quiet Quitting
Biar kamu bisa lebih peka terhadap fenomena ini, berikut beberapa tanda-tanda umum dari seseorang yang mungkin sedang quiet quitting:
1. Kurangnya Inisiatif
Mereka cenderung menghindari ide baru atau tantangan yang bisa ningkatin performa kerja. Pokoknya, kerja sesuai SOP aja.
2. Menghindari Tugas Tambahan
Begitu jam kerja selesai, langsung cabut. Kalau ada tugas tambahan di luar kontrak, biasanya akan ditolak atau dihindari.
3. Nggak Aktif di Meeting atau Kegiatan Sosial Kantor
Kalau ada rapat yang nggak wajib, mereka lebih pilih skip. Ajakan nongkrong bareng kantor juga sering dilewatkan.
4. Semangat dan Antusiasme Menurun
Baca Juga: Horor di Gaza: Ambil Air Sama dengan Misi Bunuh Diri, 700 Warga Tewas Ditembak Israel
Biasanya mulai terlihat dari ekspresi wajah atau nada bicara. Mereka kayak kehilangan semangat dalam bekerja.
5. Bekerja Hanya Demi Gaji
Nggak ada keterikatan emosional terhadap pekerjaan. Fokus utamanya ya cuma menyelesaikan tugas dan menerima gaji.
6. Kurangnya Komunikasi
Mulai menarik diri dari obrolan santai di kantor, bahkan dengan atasan atau rekan kerja pun cuma ngomongin soal kerjaan.
7. Nggak Responsif di Luar Jam Kerja
Chat atau email dari kantor yang masuk di luar jam kerja biasanya nggak akan dibalas sampai keesokan harinya.
Kenapa Quiet Quitting Bisa Terjadi?
Ada banyak alasan kenapa seseorang bisa masuk ke fase quiet quitting. Beberapa di antaranya:
Bisa juga karena seseorang merasa "nggak ada gunanya" ngasih usaha lebih karena nggak dihargai. Akhirnya, mereka memilih bertahan tapi dengan batas minimal usaha.
Solusinya Gimana?
Fenomena quiet quitting bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Bagi perusahaan, penting banget untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan terbuka terhadap feedback karyawan. Sementara buat karyawan, penting untuk terus mengenali apa yang membuat kamu kehilangan semangat, dan mulai cari cara buat mengatasinya entah itu komunikasi dengan atasan, rehat sejenak, atau bahkan mempertimbangkan perubahan karier.
Karena, kerja yang ideal itu bukan cuma soal gaji, tapi juga tentang rasa dihargai, nyaman, dan semangat untuk berkembang.
Jadi, apakah kamu sedang quiet quitting? Atau malah pernah mengalaminya? Yuk, mulai peka dan jangan biarkan dirimu 'diam-diam berhenti' dalam kariermu sendiri!