Kerja Secukupnya tanpa Extra Mile? Kenali Fenomena Quiet Quitting, Ciri-ciri, dan Cara Menyikapinya

Quiet quitting bukan resign diam-diam, tapi kerja secukupnya aja tanpa usaha ekstra. Yuk, kenali ciri-cirinya biar kamu nggak terjebak dan tau gimana harus bersikap saat mengalaminya!

Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P
Selasa, 15 Juli 2025 | 11:25 WIB
Kerja Secukupnya tanpa Extra Mile? Kenali Fenomena Quiet Quitting, Ciri-ciri, dan Cara Menyikapinya

Kerja Secukupnya tanpa Extra Mile? Kenali Fenomena Quiet Quitting, Ciri-ciri, dan Cara Menyikapinya

guideku.com - Pernah nggak sih kamu merasa kerja cuma sekadar buat menyelesaikan tugas dan menerima gaji aja? Nggak mau ambil tanggung jawab lebih, nggak tertarik ikut meeting tambahan, dan pulang tepat waktu tiap hari?

Nah, kalau iya, bisa jadi kamu atau rekan kerjamu sedang mengalami yang namanya quiet quitting.

Istilah ini mungkin baru booming belakangan, tapi perilaku seperti ini sebenarnya udah lama banget terjadi di lingkungan kerja. Bedanya, sekarang udah ada istilahnya dan mulai diperhatikan serius oleh perusahaan.

Yuk, kita bahas lebih dalam soal quiet quitting dan gimana cara mengenalinya!

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan berarti seseorang tiba-tiba resign atau keluar dari pekerjaannya secara diam-diam. Bukan juga mereka malas atau nggak mau kerja. Tapi lebih ke arah berhenti untuk "berjuang lebih".

Orang yang ngelakuin quiet quitting tetap menyelesaikan pekerjaan utamanya sesuai deskripsi job. Tapi, mereka nggak mau repot ngambil inisiatif tambahan, ikut rapat yang nggak wajib, atau lembur tanpa alasan kuat. Jadi, mereka cuma ngasih energi sesuai kontrak kerja, nggak lebih.

Konsep ini sempat dibahas dalam artikel Harvard Business Review pada September 2022. Para profesor Anthony C. Klotz dan Mark C. Bolino bilang kalau quiet quitters tetap menyelesaikan tugas utama mereka, tapi mereka mulai menghindari yang disebut citizenship behaviors, kayak lembur, datang lebih awal, atau aktif di meeting non-mandatori.

Ciri-Ciri Quiet Quitting

Biar kamu bisa lebih peka terhadap fenomena ini, berikut beberapa tanda-tanda umum dari seseorang yang mungkin sedang quiet quitting:

1. Kurangnya Inisiatif

Mereka cenderung menghindari ide baru atau tantangan yang bisa ningkatin performa kerja. Pokoknya, kerja sesuai SOP aja.

2. Menghindari Tugas Tambahan

Begitu jam kerja selesai, langsung cabut. Kalau ada tugas tambahan di luar kontrak, biasanya akan ditolak atau dihindari.

3. Nggak Aktif di Meeting atau Kegiatan Sosial Kantor

Kalau ada rapat yang nggak wajib, mereka lebih pilih skip. Ajakan nongkrong bareng kantor juga sering dilewatkan.

4. Semangat dan Antusiasme Menurun

Baca Juga: Horor di Gaza: Ambil Air Sama dengan Misi Bunuh Diri, 700 Warga Tewas Ditembak Israel

Biasanya mulai terlihat dari ekspresi wajah atau nada bicara. Mereka kayak kehilangan semangat dalam bekerja.

5. Bekerja Hanya Demi Gaji

Nggak ada keterikatan emosional terhadap pekerjaan. Fokus utamanya ya cuma menyelesaikan tugas dan menerima gaji.

6. Kurangnya Komunikasi

Mulai menarik diri dari obrolan santai di kantor, bahkan dengan atasan atau rekan kerja pun cuma ngomongin soal kerjaan.

7. Nggak Responsif di Luar Jam Kerja

Chat atau email dari kantor yang masuk di luar jam kerja biasanya nggak akan dibalas sampai keesokan harinya.

Kenapa Quiet Quitting Bisa Terjadi?

Ada banyak alasan kenapa seseorang bisa masuk ke fase quiet quitting. Beberapa di antaranya:

  • Merasa lelah dan burnout karena beban kerja berlebihan tanpa apresiasi yang layak.
  • Nggak ada jenjang karier atau penghargaan yang jelas.
  • Lingkungan kerja yang kurang sehat atau minim komunikasi terbuka.
  • Merasa nggak cocok secara personal dengan culture perusahaan.

Bisa juga karena seseorang merasa "nggak ada gunanya" ngasih usaha lebih karena nggak dihargai. Akhirnya, mereka memilih bertahan tapi dengan batas minimal usaha.

Solusinya Gimana? 

Fenomena quiet quitting bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Bagi perusahaan, penting banget untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan terbuka terhadap feedback karyawan. Sementara buat karyawan, penting untuk terus mengenali apa yang membuat kamu kehilangan semangat, dan mulai cari cara buat mengatasinya entah itu komunikasi dengan atasan, rehat sejenak, atau bahkan mempertimbangkan perubahan karier.

Karena, kerja yang ideal itu bukan cuma soal gaji, tapi juga tentang rasa dihargai, nyaman, dan semangat untuk berkembang.

Jadi, apakah kamu sedang quiet quitting? Atau malah pernah mengalaminya? Yuk, mulai peka dan jangan biarkan dirimu 'diam-diam berhenti' dalam kariermu sendiri!

×
Zoomed
TERKINI
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer alias Noel, yang selama ini sering pasang badan dan ngaku-n...
business | 19:00 WIB
Sebuah curhatan viral menuding seorang Warga Negara Asing (WNA) telah kehilangan uang USD 5.000 (sekitar Rp 80 juta!) di...
business | 19:00 WIB
Sekarang zamannya serba digital. Perlu nggak sih bikin rekening bank digital? Atau mending tetap setia sama bank konvens...
business | 17:00 WIB
Di tengah semangat menyambut HUT RI ke-80, ada sebuah unggahan viral di media sosial yang dijamin bakal bikin kita semua...
business | 18:28 WIB
Kalau ngomongin dunia kerja, lagi rame Gen Z galau pilih hustle culture atau work-life balance. Kamu tim mana nih? Yuk, ...
business | 18:15 WIB