Beli Mobil Listrik Gak Perlu Beli Baterai? Jurus Sakti VinFast yang Bisa Ubah Peta EV Indonesia

Di balik pertumbuhan mobil listrik, banyak konsumen yang masih ragu, terutama soal harga awal kendaraan yang mahal dan ketahanan baterai jangka panjang.

Reza Sulaiman
Sabtu, 08 November 2025 | 21:00 WIB
Beli Mobil Listrik Gak Perlu Beli Baterai? Jurus Sakti VinFast yang Bisa Ubah Peta EV Indonesia

Beli Mobil Listrik Gak Perlu Beli Baterai? Jurus Sakti VinFast yang Bisa Ubah Peta EV Indonesia

guideku.com - Pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia sedang tumbuh pesat. Namun, di balik pertumbuhan ini, banyak konsumen yang masih ragu, terutama soal harga awal kendaraan yang mahal dan ketahanan baterai jangka panjang.

VinFast, produsen EV asal Vietnam, datang dengan pendekatan yang berbeda: skema berlangganan baterai. Model ini tidak hanya bisa menurunkan harga awal kendaraan, tetapi juga menghadirkan ekosistem EV yang lebih aman dan berkelanjutan.

“Kami ingin membuat transisi hijau menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat, sekaligus mengutamakan kepentingan konsumen,” ujar Kariyanto Hardjosoemarto (Kerry), CEO VinFast Indonesia.

Beli Mobilnya Aja, Baterainya 'Nge-kos'

Skema ini secara cerdas memisahkan biaya baterai dari harga kendaraan. Jadi, konsumen tidak perlu membayar puluhan atau ratusan juta rupiah sekaligus untuk baterai saat membeli mobil listrik. Selain menurunkan "tiket masuk" finansial, skema ini juga memberikan garansi baterai seumur hidup, yang memberikan kepastian jangka panjang bagi para pemilik kendaraan.

Menurut Kerry, skema ini lahir dari pemahaman mendalam terhadap kekhawatiran konsumen.

“Biaya awal yang tinggi menjadi hambatan utama dalam membeli EV, sementara banyak konsumen yang khawatir soal umur baterai dan biaya penggantiannya. Kami langsung menjawab kekhawatiran ini,” jelasnya.

Bukan Cuma Untung di Kantong, tapi Juga Buat Lingkungan

Selain menguntungkan konsumen, model ini juga sangat mendukung keberlanjutan lingkungan. Karena baterai tetap dimiliki oleh VinFast, perusahaan bisa memantau, menarik kembali, dan mendaur ulang baterai di akhir masa pakainya.

“Hal ini tidak hanya memastikan keamanan operasional, tetapi juga mendukung pembangunan ekosistem EV yang berkelanjutan dan sirkular,” tambah Kerry.

Baca Juga: Saat Investor Vietnam 'Nyetrum' Sulawesi: Mampukah Proyek Energi Hijau Percepat Mimpi Indonesia Emas?

Dengan kontrol penuh terhadap baterai, potensi limbah berbahaya bisa diminimalkan, dan perusahaan bisa terus mengadopsi inovasi teknologi baterai tanpa harus membebani konsumen.

Jaminan Harga dan Layanan yang Bikin Tenang

Skema berlangganan baterai VinFast juga menghadirkan stabilitas dan transparansi. Kerry menegaskan bahwa biaya berlangganan akan tetap sama untuk pelanggan lama, sehingga tidak akan ada kenaikan mendadak yang bisa mengikis kepercayaan.

Mulai 1 Agustus, VinFast secara resmi menawarkan dua opsi fleksibel bagi konsumen: membeli kendaraan beserta baterai, atau membeli kendaraan dengan skema berlangganan baterai tanpa batasan jarak tempuh.

Dalam kebijakan ini, perusahaan bertanggung jawab penuh atas performa baterai, termasuk perawatan, perbaikan, hingga penggantian gratis jika kapasitasnya turun di bawah 70%.

Tiga Jurus Andalan VinFast

Skema inovatif ini menjadi pilar utama dari strategi "tiga arah" VinFast untuk menghapus keraguan konsumen:

  • Garansi Revolusioner: Menunjukkan komitmen VinFast terhadap kualitas produknya.
  • Nilai Jual Kembali Terjamin: Adanya komitmen buyback bisa melindungi investasi para pelanggan.
  • Pengisian Daya Gratis: Akses pengisian daya gratis di stasiun V-Green bisa menekan biaya total kepemilikan, membuat peralihan ke EV jadi lebih ekonomis.

Bagi pasar EV Indonesia yang masih berkembang, model berlangganan baterai VinFast ini bisa menjadi standar baru. Jika berhasil, inovasi ini dapat mempercepat transisi ke mobilitas hijau yang lebih merata di Asia Tenggara.

×
Zoomed
TERKINI
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer alias Noel, yang selama ini sering pasang badan dan ngaku-n...
business | 19:00 WIB
Sebuah curhatan viral menuding seorang Warga Negara Asing (WNA) telah kehilangan uang USD 5.000 (sekitar Rp 80 juta!) di...
business | 19:00 WIB
Sekarang zamannya serba digital. Perlu nggak sih bikin rekening bank digital? Atau mending tetap setia sama bank konvens...
business | 17:00 WIB
Di tengah semangat menyambut HUT RI ke-80, ada sebuah unggahan viral di media sosial yang dijamin bakal bikin kita semua...
business | 18:28 WIB
Kalau ngomongin dunia kerja, lagi rame Gen Z galau pilih hustle culture atau work-life balance. Kamu tim mana nih? Yuk, ...
business | 18:15 WIB