ilustrasi uang, kondisi perekonomian. (Unsplash)
Guideku.com - Kabar baru dari pemerintah, dengan bangga mengumumkan kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2025 ini meroket sampai 5,12%, angka yang katanya "wow" banget.
Tapi di sisi lain, Istana Kepresidenan justru mengakui kalau fenomena Rojali dan Rohana (Rombongan Jarang Beli & Rombongan Hanya Nanya) itu nyata dan bukan sekadar lelucon.
Loh, kok bisa? Kalau ekonominya beneran "gaspol", kenapa di mal-mal isinya malah orang yang cuma numpang ngadem?
Versi Pemerintah: Ekonomi Kita Keren, yang Gak Percaya Aneh!
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data yang bikin banyak orang kaget. Di tengah ketidakpastian global, ekonomi kita katanya tumbuh 5,12%, melampaui ekspektasi banyak pihak.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, pun langsung pasang badan membela data ini. Saat ditanya wartawan soal adanya pihak yang meragukan data BPS, jawabannya singkat tapi tegas.
"Kan sudah diumumin dan tadi sudah dijelaskan," kata Airlangga, Selasa (5/8/2025). Saat didesak lagi soal kemungkinan adanya permainan data, ia kembali menjawab, "Mana ada!"
Airlangga membeberkan sejumlah "bukti" pertumbuhan, seperti konsumsi rumah tangga yang naik, investasi melesat, transaksi di marketplace naik 7,55%, dan terciptanya 3,6 juta lapangan kerja baru.
Versi Istana: 'Rojali Itu Lecutan Buat Kita'
Nah, di saat Menko Perekonomian lagi sibuk "pasang badan", Istana Kepresidenan justru memberikan respons yang jauh lebih "membumi" dan jujur. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengakui kalau fenomena Rojali dan Rohana yang viral itu adalah cerminan dari kondisi nyata di masyarakat.
Menurutnya, istilah ini bukan buat bahan bercandaan.
Baca Juga: Isi Chat Pilu Azizah Salsha ke Ibunya Viral, Sinyal Pisah Sama Arhan Makin Kuat?
"Saya terus terang tidak terlalu gembira dengan istilah itu. [...] Itu adalah sebuah lecutan bagi kita bahwa memang masih banyak yang harus kita perjuangkan, masih banyak yang harus kita benahi," kata Prasetyo di Istana.
Prasetyo mengakui, meskipun angka pertumbuhan ekonomi secara nasional terlihat bagus, itu tidak bisa menggambarkan kondisi semua lapisan masyarakat.
"Masih ada masyarakat yang masih berada di desil 1-2 atau berada di garis kemiskinan dan miskin ekstrem. Kondisi tersebut lah yang memunculkan adanya fenomena dan istilah 'Rojali' dan 'Rohana'," jelasnya.
Jadi, Siapa yang Benar?
Gengs, benturan antara klaim pemerintah dan pengakuan Istana ini sebenarnya nggak sepenuhnya bertolak belakang. Keduanya bisa jadi benar.
Secara makro, ekonomi kita mungkin memang sedang tumbuh. Investasi besar dan proyek-proyek pemerintah bisa jadi pendorong utamanya.
Tapi secara mikro, di level kita sebagai rakyat biasa, "kue" pertumbuhan itu mungkin belum terasa merata. Biaya hidup yang terus naik bikin kita harus "ngerem" pengeluaran, bahkan untuk sekadar beli baju baru atau ngopi-ngopi cantik.
Fenomena Rojali ini jadi bukti paling nyata dari adanya "kesenjangan" antara angka statistik dan realita di lapangan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu nggak akan ada artinya kalau nggak bisa dirasakan sampai ke warung kopi dan meja makan kita semua.
Ini jadi PR besar buat pemerintah. Jangan cuma fokus sama angka-angka indah di atas kertas, tapi juga harus peka sama "kode-kode keras" dari rakyatnya yang kini lebih memilih jadi Rojali daripada kalap belanja. Setuju?