Kenali! Ciri-Ciri Upselling Biar Belanja Nggak Makin Mahal, Lengkap dengan Cara Menghindarinya
guideku.com - Pernah nggak sih, niat awal cuma mau beli satu barang, eh pulangnya malah bawa kantong belanjaan lebih banyak? Kalau iya, bisa jadi kamu baru saja jadi "korban" upselling.
Upselling ini sebenarnya strategi pemasaran yang udah umum banget dipakai sama sales, kasir, atau pelayan. Sederhananya, mereka akan nawarin produk atau layanan yang lebih mahal, lebih besar, atau punya fitur tambahan, dengan tujuan kamu ngeluarin uang lebih banyak.
Masalahnya, kalau nggak hati-hati, kamu bisa jadi beli barang yang sebenernya nggak butuh-butuh amat, cuma gara-gara bujuk rayu mereka. Nah, biar nggak gampang kejebak, kita kupas tuntas yuk soal upselling, ciri-cirinya, contoh, dan cara menghindarinya.
Upselling adalah teknik penjualan di mana penjual mendorong pembeli buat milih produk yang lebih mahal atau menambah fitur tertentu, dibanding pilihan awal yang lebih murah.
Misalnya, kamu mau beli roti Rp10 ribu, tapi pelayan bilang, "Kak, yang ukuran besar cuma nambah Rp5 ribu loh, lebih puas makannya." Kalau kamu akhirnya ambil yang besar, berarti strategi upselling mereka berhasil.
Buat bisnis, ini tentu menguntungkan. Tapi buat konsumen, kalau nggak bijak, bisa bikin dompet tipis.
Ciri-Ciri Upselling yang Perlu Kamu Waspadai
Biar nggak gampang kebujuk, kenali tanda-tanda upselling ini:
1. Penawaran Terlalu Agresif
Penjual terkesan memaksa kamu buat ambil produk yang lebih mahal. Kadang mereka nggak ngasih waktu buat mikir dengan bilang, "Kalau nggak beli sekarang, rugi loh."
2. Produk Nggak Relevan
Tawaran yang diberikan nggak ada hubungannya sama kebutuhan kamu. Misalnya, beli headset tapi ditawarin tas laptop.
3. Tekanan Waktu
Biasanya berupa "promo cuma hari ini" atau "stok terbatas". Padahal, bisa jadi promo itu memang ada terus dan cuma trik supaya kamu buru-buru beli.
4. Perbedaan Harga Signifikan
Kalau selisih harga terlalu jauh dari pilihan yang kamu incar, itu patut dicurigai. Bisa jadi kamu dipancing untuk keluar dari budget tanpa sadar.
5. Fokus ke Keuntungan Penjual
Kamu bisa ngerasain kok, kalau sales cuma ngejar target. Mereka lebih fokus menjual dibanding memastikan kamu bener-bener butuh produk tersebut.
Baca Juga: Ganteng Nggak Perlu Mahal: 3 Jaket Bomber Lokal di Bawah 200 Ribu Buat Nongkrong
Contoh-Contoh Upselling di Kehidupan Sehari-Hari
Cara Menghindari Upselling
1. Cari Tahu Harga Produk
Sebelum belanja, riset dulu harga asli produk. Kalau udah tahu harga pasarnya, kamu nggak bakal gampang terbujuk beli yang lebih mahal.
2. Pahami Taktik Penjualan
Pelajari trik yang sering dipakai sales, kayak "bonus cuma kalau ambil paket ini" atau "upgrade biar lebih awe". Begitu kamu paham polanya, godaan dari mereka nggak bakal mempan deh.
3. Tetapkan Anggaran
Bikin daftar belanja dan tentuin budget. Kalau udah mentok, jangan geser angka meski ada penawaran "menarik". Ini semacam pagar biar pengeluaran kamu jadi nggak liar.
4. Jaga Komitmen
Sebelum masuk toko, kalau kamu udah niat beli A, ya fokus ke A aja. Ingat, tawaran yang datang belum tentu sesuai sama kebutuhan kamu.
5. Jawab dengan Tegas
Kamu bisa jawab tawaran mereka kayak gini: "Makasih ya kak, tapi aku lagi nggak butuh yang itu." Kalau kamu nggak tegas, penjual bisa terus nyerocos sampai kamu luluh.
6. Cepat Selesaikan Pembelian
Semakin lama di toko, semakin banyak godaan. Jadi kalau udah dapet yang dicari, langsung bayar dan cabut.
7. Belanja Online
Lebih minim interaksi sales, jadi kecil kemungkinan di-upsell. Plus, kamu bisa bandingin harga dengan mudah.
Upselling itu nggak selalu buruk, kok. Kalau penawarannya bener-bener menguntungkan dan sesuai kebutuhan, nggak masalah buat diambil. Tapi kalau cuma bikin pengeluaran bengkak, mending cuekin dulu.
Ingat, belanja itu kayak main catur: harus punya strategi dan mikir beberapa langkah ke depan biar nggak "skak mat" sama bujuk rayu penjual. Jadi, lain kali kalau ada yang bilang, "Cuma nambah segini aja, Kak…", kamu udah tahu harus jawab apa!