Ngomongin Ekonomi Syariah, Sri Mulyani : Bayar Pajak Itu Semulia Zakat dan Wakaf
guideku.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja mengeluarkan sebuah jurus argumen baru yang dijamin bakal jadi bahan perdebatan sengit di tongkrongan kita. Di tengah banyaknya keluhan soal pajak yang makin mencekik, Sri Mulyani justru memberikan perspektif yang sangat spiritual.
Menurutnya, membayar pajak itu esensinya sama mulianya dengan berzakat dan berwakaf! Sebuah analogi tingkat tinggi yang sontak bikin banyak orang auto mikir, "Beneran gak sih bisa disamain?".
Emangnya Sri Mulyani Ngomong Apa?
Dalam sebuah acara sarasehan ekonomi syariah, Rabu (13/8/2025), Sri Mulyani menjelaskan logikanya. Menurutnya, baik pajak, zakat, maupun wakaf, semuanya punya tujuan yang sama: mengembalikan sebagian harta kita kepada mereka yang lebih membutuhkan.
"Caranya hak orang lain itu diberikan ada yang melalui zakat, wakaf, ada yang melalui pajak, dan pajak itu kembali kepada yang membutuhkan," kata Sri Mulyani.
Nah, biar argumennya makin kuat, Sri Mulyani langsung spill the tea soal ke mana saja aliran uang pajak yang kita bayarkan. Ternyata, daftarnya panjang banget dan fokusnya ke kelompok menengah ke bawah.
"Itu semuanya hak dari rezeki yang kamu miliki untuk orang lain," tegas Sri Mulyani.
Mimpi Jadi 'Role Model' Ekonomi Syariah Dunia
Sri Mulyani juga punya mimpi besar. Menurutnya, kalau kita bisa membangun struktur ekonomi syariah dengan benar, Indonesia bisa jadi role model dan melejit jadi nomor satu di dunia.
Ia mencontohkan inovasi seperti cash waqf linked sukuk (semacam investasi wakaf) yang sudah berhasil membangun rumah sakit mata.
Baca Juga: Ribut Gegara Ejekan Nama, Sunan Kalijaga Ngaku Kena Pukul Pengacara Reza Gladys!
Tapi, Kenapa Netizen Seringnya Masih Sinis?
Analogi "pajak = zakat" ini memang terdengar sangat ideal. Tujuannya mulia, yaitu untuk menciptakan keadilan sosial. Tapi, kita semua tahu kenapa di lapangan sering kali muncul suara-suara sinis dari netizen.
Masalah Kepercayaan: Banyak yang masih ragu, "Beneran gak sih duit pajaknya dipakai beneran buat rakyat?". Kasus-kasus korupsi yang terus-menerus muncul, dari mulai korupsi bansos sampai skandal di Ditjen Pajak sendiri, jelas menggerus kepercayaan publik.
Kontras Gaya Hidup Pejabat: Di saat rakyat diminta "ikhlas" bayar pajak demi keadilan, di sisi lain kita sering disuguhkan dengan gaya hidup mewah para pejabat yang justru dibiayai dari uang pajak itu sendiri. Kontras inilah yang bikin analogi "semulia zakat" jadi terasa hambar.
Distribusi yang Belum Merata: Meskipun banyak program bantuan, faktanya masih banyak banget rakyat miskin yang "terlewat" dan nggak pernah merasakan manfaatnya, sementara yang lain justru dapat bantuan dobel.
Pada akhirnya, niat baik pemerintah untuk menggunakan pajak sebagai alat keadilan itu patut diapresiasi. Tapi, PR terbesarnya bukan lagi soal mengumpulkan pajak, tapi soal menjaga amanah dan memastikan setiap rupiahnya benar-benar sampai ke tangan yang berhak.
Kalau itu sudah terwujud, mungkin baru saat itulah kita semua bisa dengan tulus setuju bahwa membayar pajak itu memang semulia berzakat. Gimana menurutmu?