Event

Menyimak Jogja Migunani, Menuntaskan Rindu Pada Efek Rumah Kaca

Penggalan cerita tim Guideku.com di Jogja Migunani Road to Soundrenaline 2018.

Dany Garjito | Aditya Prasanda

Jelang pemeriksaan barang (Guideku.com/adit)
Jelang pemeriksaan barang (Guideku.com/adit)

Guideku.com - Kamis, (15/8/2018) sedari siang suara gitar dan dentuman drum sayup terdengar dari rooftop kantor Guideku.com di Jl. Mawar, Yogyakarta.

Tak jauh dari kantor kami, beberapa band yang akan unjuk taring di Mandala Krida tengah melakukan sound check.

Konon, malam itu sebuah event akbar akan digelar di lapangan parkir Stadion Mandala Krida, yakni Jogja Migunani Road to Soundrenaline 2018.

Beberapa nama besar di antaranya Naif, Efek Rumah Kaca dan FSTVLST cukup membuat para penghuni kantor resah untuk memilih beristirahat sepulang kerja atau bersesakan dengan ribuan orang?

Namun bagi tim Guideku.com pilihannya jelas bersesakan dengan ribuan orang demi menuntaskan rindu pada Efek Rumah Kaca (ERK).

Bukan tanpa sebab, sejak sang frontman, Cholil Mahmud pulang-pergi ke Amerika Serikat, momen menyaksikan ERK terbilang langka dan layak diperjuangkan.

Maka tanpa mengesampingkan headliner lain, menyaksikan ERK merupakan kewajiban utama yang harus kami tuntaskan malam itu.

Singkat cerita, malam yang dinanti pun tiba, selepas menyantap makan malam, kami yang berjumlah tiga orang langsung melesat ke Mandala Krida. Dan sebab jaraknya yang tidak jauh, kami akhirnya memilih berjalan kaki.

Beruntung, keputusan kami tepat, beberapa langkah meninggalkan kantor, kami menyaksikan ribuan motor memadati jalanan di luar stadion.

Antrian penonton Jogja Migunani (Guideku.com/adit)
Antrian penonton Jogja Migunani (Guideku.com/adit)

Jalanan sesak dengan mobil dan motor yang mengantre bersama para pejalan kaki yang hendak menuju event tanpa karcis alias gratis itu.

Sesampainya di gerbang venue, pemeriksaan barang dilakukan sebelum akhirnya kami dapat masuk dan menyaksikan panggung utama.

Jelang pemeriksaan barang (Guideku.com/adit)
Jelang pemeriksaan barang (Guideku.com/adit)

Saat kami tiba, FSTVLST telah memainkan set lagu mereka sedari tadi, kami hanya sempat mendengarkan dua lagu terakhir, termasuk di antaranya sebuah lagu baru berjudul 'Bergegas'.

Menyaksikan FSTVLST (Guideku.com/adit)
Menyaksikan FSTVLST (Guideku.com/adit)

Demi menyaksikan stage lebih dekat, kami harus sabar menunggu para penonton setia band kawakan Yogyakarta itu mundur. Hingga akhirnya kami mendapatkan posisi ternyaman di tengah penonton lain.

Akhirnya sekitar pukul 20.00 WIB, Poppy, Cholil, Akbar dan para personel ERK lainnya mulai mengokupasi panggung.

Tanpa banyak gimmick, lagu 'Putih' berkumandang diiringi koor ribuan penonton malam itu.

Di antara haru dan bulu remang yang yang begidik, kami semua larut menyanyikan bait demi bait lagu magis di album Sinestesia tersebut.

"Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah"

Menyanyikan bait itu, ada perasaan haru dan bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata, betapapun lagu 'Putih' mengisahkan kematian yang begitu dekat dengan urat nadimu.

Kami mengingat kematian namun di saat yang bersamaan kami tidak bisa menolak rasa bahagia kala merasakan sensasi 'eargasm' malam itu.

Menghayati Efek Rumah Kaca (Guideku.com/adit)
Menghayati Efek Rumah Kaca (Guideku.com/adit)

Beberapa saat setelah Putih berkumandang, ERK tancap gas memainkan lagu 'Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa'. Lagu ini seakan menuntaskan kerinduan kami pada album pertama ERK.

"Kau belah dadaku mengganti isinya
Dihisap pikiranku memori terhapus
Terkunci mulutku menjeritkan pahit"

Tampak tensi mulai meninggi kala bait ini dilesapkan Cholil Mahmud.

Usai lagu kedua, repertoar selanjutnya bergeser ke nomor teranyar ERK yang liriknya dikerjakan oleh Najwa Shihab.

Sebuah anthem kesekian yang dilahirkan ERK berjudul 'Seperti Rahim Ibu'.

"Kemanusiaan itu
Seperti terang pagi"

Sekali lagi, kami merasakan frekuensi tertentu yang membuat bulu remang begidik dari ujung kaki hingga leher.

Menyanyikan bait di lagu ini, bak membuka memori pada banyak konflik tak berkesudahan di Indonesia, dari petani Kulonprogo hingga Rembang yang masih memperjuangkan lahan hidup mereka, hingga kasus penghilangan paksa yang menahun dan terorganisir dilakukan negara.

ERK melanjutkan set dengan deretan lagu yang mengajak emosi ribuan penonton naik-turun malam itu.

Kami bergoyang saat lagu 'Cipta Bisa Dipasarkan', 'Kenakalan Remaja di Era Informatika' dan 'Cinta Melulu' didendangkan.

Keberanian kami memuncak kala 'Pasar Bisa Diciptakan', 'Di Udara' dan 'Mosi Tidak Percaya' menggerogoti nadi kami.

Dan kami terkesima, direbut hatinya dengan sangat manis, saat ERK menuntaskan malam itu dengan lagu 'Desember' dan 'Sebelah Mata'.

Selepas ERK, kami semua bergoyang menikmati penampilan Naif yang membawakan sederet tembang sepanjang masa mereka. Dari 'Piknik 72', 'Benci Untuk Mencinta', Air dan Api' hingga 'Mobil Balap'.

Penampilan Naif di Jogja Migunani (Guideku.com/adit)
Penampilan Naif di Jogja Migunani (Guideku.com/adit)

Malam itu pun ditutup dengan hits-hits andalan yang diremix kelompok 'The Megahits Selection'.

Semua penantian tuntas, semua penonton bergoyang, semua orang tampak senang. Terima kasih malam yang panjang!

Penonton diajak bergoyang The Megahits Selection (Guideku.com/adit)
Penonton diajak bergoyang The Megahits Selection (Guideku.com/adit)

 

Berita Terkait

Berita Terkini