Food

Duh! Makan Cokelat Rahasia Milik Ibunya, Balita Ini Nyaris Tewas

Sang ibu punya cokelat yang ia simpan di tempat tersembunyi.

Rima Sekarani Imamun Nissa

Ilustrasi Cokelat (Pixabay/pixel2013)
Ilustrasi Cokelat (Pixabay/pixel2013)

Guideku.com - Seorang balita 3 tahun tak sengaja menemukan cokelat rahasia milik ibunya. Mirisnya, ia nyaris tewas setelah memakan cokelat yang disimpan di tempat tersembunyi itu.

Omar Vaughn, yang menurut ibunya alergi terhadap susu, kacang-kacangan, telur, dan biji wijen seperti saudaranya, dilaporkan mendapat tujuh suntikan adrenalin sebelum dilarikan ke UGD dengan sederet gejala yang mengancam jiwa.

"Melihat bayi kami terhubung ke ventilator membuatku menangis,'' kata Aisha Vaughn, ibu bocah itu, kepada Daily Star. "Ini salahku, aku tersiksa melihat Omar kesakitan."

Vaughn mengatakan, saat itu ia pergi ke bioskop, sementara anak-anaknya di rumah bersama sang ayah. Ketika dirinya tak ada di rumah, Omar menemukan Cadbury Wispa Bites yang dia simpan di bawah tempat tidurnya.

Menurut situs web Cadbury, produk yang diduga dikonsumsi Omar ini mengandung susu, gula, mentega kakao, padatan kakao, lemak nabati, pengemulsi, dan perasa. Peringatan menyatakan bahwa produk ini juga memiliki kandungan kacang.

Ilustrasi Cokelat (Pixabay/congerdesign)
Ilustrasi Cokelat (Pixabay/congerdesign)

"Sulit menjadi ibu bagi anak-anak dengan persyaratan diet yang ekstrem, dan ada begitu banyak hal yang mesti saya hentikan," katanya Vaughn.

Keluarganya pun harus mengikuti aturan yang sangat ketat ketika hendak makan di luar dan menentukan makanan untuk anak-anaknya. "Cokelat kesayanganku adalah satu-satunya yang aku simpan," ujarnya.

Vaughn menceritakan, putranya mengalami koma yang diinduksi secara medis ketika tubuhnya melawan reaksi alergi. Tiga hari kemudian, Omar sudah boleh pulang.

Ilustrasi balita memegang roti. (Pixabay/Myriams-Fotos)
Ilustrasi balita makan. (Pixabay/Myriams-Fotos)

"Aku masih kaget dengan cobaan mengerikan yang dialami Omar," ungkap sang ibu.

"Aku tidak percaya keinginan kita untuk makan cokelat hampir membunuh buah hati kami yang berharga ini. Sekarang kami lebih berhati-hati menentukan makanan apa yang boleh masuk rumah. Tetapi aku tidak akan pernah melupakan rasa bersalah menyaksikan anakku berjuang untuk hidupnya," lanjutnya. (Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana)

Berita Terkait

Berita Terkini