Food

Pelanggan Suka Nongkrong Berjam-jam, Apa Kata Bos Janji Jiwa?

Bos Janji Jiwa punya sudut pandang terhadap pelanggan yang jajan sedikit tapi nongkrong di gerai berjam-jam

Silfa Humairah

Barista kopi di cofee shop. (Unsplash/Aleksander Borzenets)
Barista kopi di cofee shop. (Unsplash/Aleksander Borzenets)

Guideku.com - Bukan hanya menu kopinya, kedai kopi kekinian juga menjadi pilihan untuk berkumpul bersama teman atau mengerjakan tugas di luar kantor.  Tapi travelers pasti pernah menemukan orang-orang yang jajan sedikit tapi nongkrong berjam-jam, kan? Atau malah bisa jadi kamu salah satunya, ayo ngaku?

Nah, Suara.com mencoba mencari tahu bagaimana sih pandangan bos kedai kopi kekinian mengenai sudut pandang mereka terhadap jenis-jenis pelanggan yang demikian.

Kepada media, Director of Jiwa Group yang menaungi Kopi Janji Jiwa dan Jiwa Toast, William Susanto, secara jujur mengatakan bahwa pelanggan jenis ini tidak merugikan perusahaaan.

Karena pada dasarnya, kata William, kedai kopi sudah menyediakan fasilitas agar pelanggan betah berlama-lama di tempat tesebut.

"Nggak, menurut saya orang-orang seperti itu tidak merugikanlah, itu fasilitas memang (disiapkan). Kita sudah membuat tempat untuk mereka berada di sana it's oke. Ya contohnya di Kopi Janji Jiwa, kita ada tempat-tempat yang memang kita desain bagus, orang stay di sana lama, its ok, dan memang kami juga menyediakan Wi-Fi buat mereka, it's oke," ujar William di Jiwa Toast Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Janji Jiwa juga belum berniat menerapkan aturan lama waktu 'nongkrong' untuk setiap satu pembelian. Ia bahkan mengaku meski banyak pelanggan yang berlama-lama, hal tersebut belum merugikan ongkos kedai secara keseluruhan.

"Kita belum ke arah sana (setelah beberapa jam beli kembali) cuma itu saran yang bagus. Tapi karena outletnya menguntungkan juga, jadi nggak apa-apa," tuturnya.

Laki-laki yang hobi fotografi itu juga melihat fungsi kedai kopi tidak jarang digunakan sebagai tempat para komunitas bertemu dan saling berdiskusi dengan terbuka. Ia juga menyontoh salah satu gerai kopi asal Amerika Serikat yang mampu bertahan dan dijadikan tempat berkumpul untuk saling bertukar pikiran.

"Ya, contohnya brand yang besar di Amerika itu mereka dari awal ingin tempat mereka, jadi komunitas orang-orang supaya bisa ngobrol. Nah, kalau di Indonesia saya rasa itu juga bagus, orang Indonesia memang dia ramah suka ngobrol, saya rasa bagus kalau kedai kopi jadi seperti itu," tutup William.

Bagaimana dengan travelers, termasuk pelanggan di kedai kopi yang berlama-lama untuk nongkrong nggak saat minum kopi? (Dini Afrianti Efendi)

Berita Terkait

Berita Terkini