79 Ribu Cewek di Jatim Gugat Cerai, Ternyata Ini Biang Kerok Utamanya

Data dari Pengadilan Tinggi Agama Surabaya menunjukkan ada 79.270 kasus perceraian pada tahun 2023, dan angkanya stabil di 79.309 kasus pada 2024. Bahkan, baru setengah jalan di tahun 2025 ini, angkanya sudah mencapai 38.087 kasus.

Reza Sulaiman
Jum'at, 01 Agustus 2025 | 12:29 WIB
79 Ribu Cewek di Jatim Gugat Cerai, Ternyata Ini Biang Kerok Utamanya

79 Ribu Cewek di Jatim Gugat Cerai, Ternyata Ini Biang Kerok Utamanya

guideku.com - Ada sebuah fenomena sosial yang lagi "meledak" di Jawa Timur, dan angkanya benar-benar bikin kita semua merinding. Bukan soal tren fashion atau kuliner, tapi soal gelombang gugatan cerai yang jumlahnya puluhan ribu. Dan yang paling bikin kaget? Mayoritas yang minta pisah adalah pihak perempuan!

Data dari Pengadilan Tinggi Agama Surabaya menunjukkan ada 79.270 kasus perceraian pada tahun 2023, dan angkanya stabil di 79.309 kasus pada 2024. Bahkan, baru setengah jalan di tahun 2025 ini, angkanya sudah mencapai 38.087 kasus.

Ini bukan cuma sekadar angka statistik. Ini adalah jeritan ribuan perempuan yang seolah berkata, "Aku sudah nggak kuat lagi." Jadi, apa sih sebenarnya biang kerok di balik semua ini?

Bongkar Angkanya, Kenapa Bikin Geger?

Lonjakan kasus perceraian yang didominasi oleh gugatan dari istri ini sampai membuat Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, ikut angkat bicara. Menurutnya, ini adalah sinyal bahaya yang menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan ketahanan keluarga di Jatim.

“Masa depan Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh cara kita memperlakukan perempuan dan anak-anak hari ini," kata Khofifah, Rabu (31/7/2025).

Jadi, Apa Sih Penyebab Utamanya?

Meskipun alasannya beragam, data dan analisis menunjukkan ada dua "biang kerok" utama di balik gelombang gugatan cerai ini: masalah ekonomi dan pertengkaran terus-menerus, yang sering kali juga dipicu oleh masalah ekonomi.

Di tengah biaya hidup yang makin mencekik, tekanan finansial menjadi bom waktu dalam banyak rumah tangga. Dan tampaknya, semakin banyak perempuan yang kini lebih berani untuk keluar dari pernikahan yang toksik dan penuh tekanan, terutama jika mereka sudah punya kemandirian finansial sendiri. Mereka tidak lagi merasa harus bertahan dalam penderitaan.

'Penyakit' Lain yang Gak Kalah Ngeri: Wabah Nikah Dini

Ternyata, tingginya angka perceraian ini punya akar masalah lain yang nggak kalah mengerikan: pernikahan dini. Data menunjukkan, angka dispensasi kawin (izin nikah untuk anak di bawah umur) di Jawa Timur juga sangat tinggi, mencapai 8.753 kasus pada tahun 2024, dan mayoritas yang dinikahkan adalah anak perempuan.

Baca Juga: 5 Aplikasi Keuangan Gratis, Bikin Nyatet Pengeluaran Jadi Gampang dan Nggak Pusing

Ini jadi lingkaran setan. Pernikahan yang dimulai terlalu dini, sering kali tanpa kesiapan mental dan finansial yang matang, sangat rentan terhadap konflik dan akhirnya berujung pada perceraian. Mimpi indah pernikahan di usia muda sering kali kandas oleh realita pahit kehidupan.

Terus, Pemerintah Ngapain? Saatnya Lindungi Korban

Menanggapi fenomena ini, pemerintah nggak tinggal diam. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyoroti betapa rentannya perempuan dan anak-anak saat harus melalui proses perceraian di pengadilan.

“Banyak perempuan dan anak korban kekerasan yang menghadapi tekanan psikologis berlapis saat memasuki proses peradilan," ujarnya.

Untuk itu, kini ada kerja sama baru antara Pengadilan Tinggi Agama Surabaya dan pemerintah daerah di Jatim. Tujuannya? Untuk memastikan tersedianya tenaga paralegal profesional yang bisa mendampingi para perempuan dan anak-anak selama proses hukum.

“Salah satu fokus utama dari kerja sama ini adalah memastikan tersedianya tenaga paralegal yang profesional, terlatih, dan memiliki perspektif gender serta hak anak," kata Menteri PPPA.

Langkah ini penting banget, Gengs. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa perempuan yang berani mengambil langkah berat untuk menggugat cerai tidak sendirian. Mereka akan mendapatkan pendampingan hukum yang layak dan berpihak pada mereka.

Kisah dari Jawa Timur ini jadi pelajaran besar. Ini bukan cuma soal perceraian, tapi soal isu ekonomi, kemandirian perempuan, dan bahaya pernikahan dini yang ternyata saling terkait. Sebuah PR besar yang harus kita semua pikirkan bersama.

×
Zoomed
TERKINI
YES 2025 menekankan perlunya pelibatan aktif generasi muda dalam perumusan kebijakan ekonomi karena dampaknya sangat sig...
news | 14:24 WIB
VinFast justru memisahkan harga baterai dari harga kendaraan. Melalui skema langganan, konsumen bisa memiliki mobil list...
news | 21:30 WIB
Di beberapa desa di Indonesia, justru dari aksi konservasi malah lahir ratusan peluang kerja baru....
news | 09:43 WIB
Kisah-kisah dari mereka yang telah memulai perjalanan bersama BSya ngasih gambaran jelas tentang bagaimana sebuah aplika...
news | 07:38 WIB
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, generasi muda nggak cuma cari sukses finansial, tapi juga makna dan keseimbangan...
news | 07:21 WIB