Api Gejolak dari Pati Bisa Menjalar ke Daerah Lain? Tingkah Pejabat Arogan yang Jadi Biang Keroknya
guideku.com - Aksi demo berujung ricuh yang mengguncang Pati, Jawa Tengah, beberapa hari lalu itu ternyata bukan sekadar drama lokal. Ahli mengatakan gejolak yang sama bisa menyebar ke daerah lain di Indonesia!
Menurut Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, apa yang terjadi di Pati adalah sebuah alarm merah bagi kita semua. kemarahan rakyat yang meledak di sana, bisa dengan mudah menjalar ke daerah-daerah lain.
Dan bensin yang siap menyulut api itu di mana-mana? Ternyata datang dari gaya komunikasi para pejabat publik yang sering kali arogan, sombong, dan meremehkan rakyat.
Pati Cermin dari Kekecewaan Nasional?
Biar nggak lupa, amukan massa di Pati itu dipicu oleh dua hal:
Kombinasi maut inilah yang akhirnya mengubah demo penolakan pajak menjadi demo pelengseran bupati. Menurut Usman Hamid, apa yang dirasakan warga Pati ini sebenarnya adalah cerminan dari kekecewaan yang dirasakan oleh banyak masyarakat di seluruh Indonesia.
"Ini peringatan untuk para pejabat publik lainnya. Agar berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Berulang kali kita sudah mendengar pernyataan-pernyataan yang sembarangan, yang tidak hati-hati," kata Usman di kantornya, Jakarta, Kamis (14/8/2025).
Contoh Buruk dari Menteri ATR Nusron Wahid
Nah, untuk membuktikan argumennya, Usman Hamid nggak perlu cari contoh jauh-jauh. Ia langsung menunjuk pernyataan kontroversial dari Menteri ATR, Nusron Wahid, yang beberapa waktu lalu viral.
Masih inget kan pas Nusron meremehkan hak waris dan leluhur terkait sengketa tanah?
"Oh ini tanahnya embah-embah saya, leluhur'. Saya mau tanya, emang embah-embah dulu bisa membuat tanah? Gak bisa membuat tanah, manusia itu gak bisa membuat tanah."
Meskipun Nusron sudah minta maaf, Usman menilai pernyataan semacam inilah yang jadi bensin utama.
Baca Juga: Niatnya Diet Sehat, Pria Ini Malah 'Dirujuk' ke RSJ Usai Ikuti Saran Gila dari ChatGPT!
"Jadi pernyataan-pernyataan sombong, arogansi, (sudahilah) termasuk pernyataan Menteri ATR (Nusron)," tegas Usman.
Peringatan paling mengerikannya adalah soal potensi eskalasi. Menurut Usman, tingkat kerawanan sosial dan kekecewaan terhadap pemerintah itu ada di mana-mana. Pati cuma kebetulan jadi yang pertama meledak.
"Akhirnya mereka melawan gitu. Dan itu saya kira cermin dari begitu banyak masyarakat di Indonesia lainnya. Di Papua, di Sulawesi, belum aja kan," ujar Usman. Sebuah peringatan bahwa api Pati ini bisa dengan mudah menjalar jika para pejabat tidak segera introspeksi diri.
Pelajaran dari 'Pati': Rakyat Udah Gak Bisa Diremehin Lagi
Kasus Pati ini jadi pelajaran super penting.
Era 'Bapak Senang' Sudah Usai: Pejabat nggak bisa lagi seenaknya bicara tanpa konsekuensi. Di era media sosial, setiap ucapan arogan akan direkam, disebar, dan jadi amunisi perlawanan.
Komunikasi Itu Kunci: Kebijakan sepahit apa pun mungkin masih bisa diterima jika dikomunikasikan dengan empati dan rasa hormat. Tapi kebijakan yang buruk ditambah komunikasi yang arogan adalah resep sempurna untuk sebuah bencana sosial.
Kesabaran Rakyat Ada Batasnya: Jangan pernah meremehkan kekuatan rakyat yang merasa terus-menerus diinjak-injak dan tidak didengar.
Jadi, daripada sibuk menyalahkan para pendemo, mungkin ini saatnya para pejabat kita lebih banyak berkaca. Karena api" itu tidak akan muncul jika tidak ada yang menyulutnya. Setuju?