Travel

Menilik dan Mencicipi Uniknya Biji Kakao di Museum Cokelat Monggo

Travelers sudah pernah coba biji kakao?

Dany Garjito | Arendya Nariswari

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

Guideku.com - Bagi travelers yang sedang berencana liburan ke Yogyakarta, kali ini Guideku.com punya referensi kece nih buat kalian.

Inilah dia Museum Cokelat Monggo di Yogyakarta.

Pada kesempatan kali ini, Guideku.com akan mengajakmu menilik langsung dan mencicipi cokelat yang ada di Museum Cokelat Monggo.

Tiba di lokasi, Guideku.com telah disambut hangat oleh beberapa staf Museum Cokelat Monggo.

Usut punya usut, ternyata tempat ini merupakan museum cokelat pertama di Jogja lho, travelers.

Menurut Tri Widiantoro selaku koordinator museum, Museum Cokelat Monggo ini hadir atas ide dari Thierry Detournay yang bukan lain merupakan pemilik Cokelat Monggo.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Jatuh cinta dengan Yogyakarta, Thierry Detournay yang merupakan warga negara Belgia ini akhirnya memutuskan untuk tinggal di Indonesia.

Rasa rindu akan rasa cokelat Belgia inilah yang membuat Thierry Detournay, asal Belgia ini terinspirasi untuk membuat cokelat di Yogyakarta.

Kesuksesan Cokelat Monggo tak kemudian didapatkan secara instan melainkan melalui proses cukup panjang.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Pada awal mulanya, di tahun 2001 Thierry Detournay mencoba membuat cokelat berjenis truffle.

Didukung oleh teman-temannya, akhirnya Thierry Detournay mencoba menjual cokelat buatannya di pasar pagi (Sunday Morning UGM).

Tak disangka, cokelat buatan Thierry Detournay ini laku keras dan ramai pembeli.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Motor yang digunakan Thierry Detournay saat pertama kali menjajakan Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Akhirnya pada tahun 2005, Thierry Detournay memantapkan diri dan mendirikan pabrik dan outlet Cokelat Monggo di wilayah Kotagede, Yogyakarta.

''Museum Cokelat Monggo ini sendiri belum lama berdiri, sekitar pertengahan Januari 2017 lalu. Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah, proses dan cara mengolah biji kakao yang baik dan benar,'' ungkap Tri kepada Guideku.com.

Memasuki ruang museum, Guideku.com dibuat takjub dengan gambaran, foto serta penjelasan mengenai sejarah cokelat yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya di tempat lain.

Kepada Guideku.com, Tri juga menjelaskan bahwa sebenarnya Indonesia sendiri merupakan negara penghasil kakao dengan kualitas unggul.

''Jadi sebenarnya, banyak negara-negara di Eropa yang mengambil kakao dari Indonesia. Tapi sayang, orang Indonesia masih kesulitan untuk mengolahnya sendiri menjadi cokelat berkualitas,'' sebut Tri.

''Oleh karenanya di sini Thierry Detournay dengan Cokelat Monggo mencoba untuk memberi saran dan mengedukasi petani kakao Indonesia untuk memperbaiki produksi kakao lokal salah satunya yang ada di Kulonprogo,'' imbuhnya.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Tepat di tengah ruangan museum juga terdapat replika perkebunan kakao yang dibuat mirip dengan pohon aslinya.

Di ruangan berikutnya juga diperlihatkan bagaimana sejarah berdirinya Cokelat Monggo yang digambarkan lewat karya berupa komik.

Beralih ke ruang produksi, Guideku.com diajak untuk menilik langsung cara mengolah biji kakao menjadi cokelat batangan.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Langkah-langkah yang dilakukan pertama kali yakni biji kakao disangrai menggunakan mesin pemanas kemudian didinginkan dengan piringan besi.

Setelah itu biji kakao diletakan di winnowing machine untuk membantu memisahkan cangkang yang tidak dapat dikonsumsi dengan kepingan kakao murni.

Kemudian kepingan kakao digiling menjadi adonan''cocoa mass'' atau ''cocoa liquor''.

Karena teksturnya belum terlalu halus, cokelat kembali diolah dan dihaluskan dengan menggunakan mesin giling yang terbuat dari batu granit.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Setelah itu barulah cokelat dimasukan ke dalam mesin Conche agar tekstur cokelat semakin lembut.

Usai berkeliling museum dan ruang produksi, Guideku.com bersantai sejenak di Kedai Cokelat Monggo.

Oh iya, di kedai Cokelat Monggo ini travelers bisa banget nih untuk mencicipi berbagai minuman cokelat asli dan juga kopi lho.

Jadi pengalaman pertama kali dan tak terlupakan, Guideku.com mencoba The Chocolate Tasting Experience di Museum Cokelat Monggo.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Ya, di sini Guideku.com mencoba rasa asli dari biji kakao sebelum diolah menjadi cokelat.

Ketika pertama kali mencoba, rasa biji kakao ini sekilas mirip dengan buah markisa, sedikit manis dan bercampur asam.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Lain halnya saat biji kakao ini digigit.

Biji kakao ini rasanya langsung berubah menjadi sedikit pahit dan rasanya mirip dengan kacang.

Setelah itu, Guideku.com diajak untuk mencoba minuman cokelat asli dengan presentase kakao yang berbeda.

Ternyata tidak semua cokelat memiliki rasa yang sama, melainkan presentase biji kakao mempengaruhi manis dan tidaknya olahan cokelat.

Bagi travelers yang mengajak buah hati, ada baiknya mencoba untuk ikut workshop The Chocolate Creating Experience.

Dalam workshop ini travelers akan diajak membuat cokelat ''Mendiant'' yang jadi hidangan cokelat kepingan khas Perancis.

 The Chocolate Creating Experience di Museum Cokelat Monggo. (Tri Widiantoro)
The Chocolate Creating Experience di Museum Cokelat Monggo. (Tri Widiantoro)

 

Di akhir perjalanan, Guideku.com tak lupa mampir showroom untuk membeli produk dari Cokelat Monggo.

Varian rasa yang ditawarkan oleh Cokelat Monggo juga sangat beragam dan super unik.

Mulai dari cokelat rasa red chili, cinnamon, sea salt hingga rendang bisa kamu beli di sini.

Berbagai produk Cokelat Monggo ini sendiri dibanderol mulai dari harga Rp 21 ribuan. Wah, menarik banget ya untuk dicoba.

Sebelum kembali, Guideku.com sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pengunjung yang kebetulan baru pertama kali datang ke Museum Cokelat Monggo bersama keluarga.

''Baru pertama kali, awalnya anak tahu dari media sosial, dan sangat berkesan sih ya. Nggak cuma anak tapi kita juga jadi ikut dapat pengetahuan tentang cokelat,'' ungkap Ibu Wagiri salah satu wisatawan dari Malang.

Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)
Museum Cokelat Monggo. (Guideku.com/Arendya)

 

Travelers pasti semakin tertarik untuk berkunjung ke Museum Cokelat Monggo kan?

Harga tiket masuk Museum Cokelat Monggo ini juga sangat terjangkau, travelers cukup membayar Rp 10 ribu saja untuk per orangnya.

Lokasi Museum Cokelat Monggo ini beralamat di Jalan Tugu Gentong RT 03 Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Museum Cokelat Monggo ini buka setiap hari mulai dari pukul 09.00-17.00 sore.

Khusus Jumat, Sabtu dan Minggu, tempat ini buka hingga pukul 19.00 malam.

Nah, jadi tunggu apa lagi? Yuk, ajak keluarga dan sahabatmu datang ke Museum Cokelat Monggo!

Berita Terkait

Berita Terkini