Travel

Benarkah Overtourism Jadi Alasan Rombongan Monyet Serang Taj Mahal?

Taj Mahal sayang, monyetku malang.

Galih Priatmojo | Aditya Prasanda

(Pixabay Simon)
(Pixabay Simon)

Guideku.com - Sebanyak 6,5 juta turis diperkirakan memadati Taj Mahal di India tahun 2016. Dan setiap tahun, jumlah ini terus bertambah menilik data pemerintah setempat.

Sialnya, padatnya jumlah pengunjung ke Taj Mahal tak diimbangi dengan kualitas pengelolaan yang sepadan.

Marmer putih bangunan ini konon berubah kuning sebab tercemar polusi, sementara di sekitar Taj Mahal, mengalir salah satu sungai paling tercemar di India, Sungai Yamuna.

Dari Sungai Yamuna yang tercemar, serangga yang hinggap di permukaan sungai terbang dan menempel di dinding Taj Mahal membuat beberapa bagian arsitektur ikon kebudayaan India ini berwarna hijau kumuh.

Over tourism ini juga disinyalir menyebabkan kerusakan pada dinding, lantai marmer dan pondasi Taj Mahal.

Taj Mahal, Salah Satu Destinasi yang Terdampak Overtourism (Pixabay/skeeze)
Taj Mahal, Salah Satu Destinasi yang Terdampak Overtourism (Pixabay/skeeze)

Selain ancaman datang dari sungai Yamuna, timbunan sampah wisatawan yang menyambangi Taj Mahal juga jadi masalah baru bagi situs kebudayaan tersebut.

Apa pasal? tumpukan sampah yang memagari Taj Mahal mengundang kawanan monyet mengais makanan di sekitarnya.

Rombongan monyet lantas menjelma ancaman baru bagi para wisatawan. Tercatat tak sedikit kasus penyerangan yang dilakukan kawanan monyet pada para pelancong.

Bahkan laporan Lonely Planet menyebut, seorang bayi wisatawan meninggal akibat gigitan monyet di Taj Mahal pada November 2018.

Ilustrasi monyet. (Pixabay)
Ilustrasi monyet. (Pixabay)

Otoritas Taj Mahal kemudian mencari solusi terbaik untuk menangani hewan yang dikultuskan di India tersebut.

Para pegawai Taj Mahal menakut-nakuti kawanan monyet menggunakan ketapel. Solusi tersebut dinilai cukup efektif namun tak dapat dijadikan solusi jangka panjang.

Sejumlah pakar menilai, agresivitas monyet meningkat akibat habitat asli mereka tergusur oleh pemukiman manusia, sehingga menyulitkan mereka mencari makan bahkan untuk sekadar bermain.

Berita Terkait

Berita Terkini