Travel

Usai Teror Bom Paskah, Industri Pariwisata di Sri Lanka Lesu

Puluhan penginapan dan destinasi wisata sepi pengunjung.

Dany Garjito | Arendya Nariswari

Ilustrasi hotel di Sri Lanka. (Pixabay/AgEGlobalGroup)
Ilustrasi hotel di Sri Lanka. (Pixabay/AgEGlobalGroup)

Guideku.com - Teror bom Sri Lanka, Minggu (21/4/19) lalu ternyata tak hanya menyisakan luka dan duka mendalam bagi dunia.

Pasalnya, teror bom paskah April lalu memberikan dampak besar terhadap industri pariwisata di Sri Lanka.

Dilansir Guideku.com dari laman Asia One, industri pariwsisata di Sri Lanka mengalami kerugian senilai 4,4 miliar dolar Amerika Serikat pasca teror bom tersebut.

Sebagian besar turis lokal dan mancanegara memilih untuk membatalkan liburan mereka ke berbagai destinasi wisata di Sri Lanka.

''Ini adalah pukulan besar bagi sektot perekonomian dan juga industri pariwisata,'' ungkap Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena dikutip dari Asia One beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Sri Lanka perlu berbenah untuk mengembalikan kekuatan sektor pariwisata negara.

Pemesanan hotel rata-rata menurun hingga 186 persen usai teror bom paskah di Sri Lanka.

Kishu Gomes, selaku Kepala Biro Pariwisata Sri Lanka menyebutkan bahwa beberapa hotel di Kolombo paling terdampak penurunan wisatawan.

6 Hal Menjijikkan yang Bisa Ditemukan di Kamar Hotel (Pixabay)
Ilustrasi kamar hotel. (Pixabay/Jan Claus)

 

''Beberapa maskapai penerbangan bahkan menghentikan frekuensi penerbangan mereka. Ini karena Load Factor (faktor beban) menurun drastis. Ini menjadi faktor yang mengkhawatirkan,'' ungkap Gomes.

Tak bisa dipungkiri lagi memang, sektor pariwisata menjadi pendapatan tercepat dan terbesar nomor tiga di Sri Lanka.

Oleh karenanya, Dana Moneter Internasional menyebutkan bahwa Sri Lanka membutuhkan kebijakan dan langkah-langkah keamanan untuk mendukung pertumbuhan ekononomi.

Bisnis hotel mewah tentu menghadapi kerugian besar pasca teror bom paskah tersebut.

Sebuah resor di pinggir pantai Bentota mengalami penurunan angka secara drastits.

Samanmali Collone (54) mengatakan bahwa Warahena Beach Hotel yang dikelolanya memasang tarif menginap sekitar Rp 804 per malamnya.

Awalnya hotel penuh dengan pesanan, namun semua calon tamu membatalkan pesanan usai berita teror bom paskah tersiar.

''Tak ada pesanan untuk minggu ini, bulan depan hingga Oktober, mereka membatalkannya,'' ungkap Collone.

Collone sampai-sampai harus merumahkan 16 karyawannya karena tidak ada pemesanan di hotel mereka.

Wah, semoga industri pariwisata di Sri Lanka segera bangkit kembali ya travelers.

Berita Terkait

Berita Terkini