Travel

Liburan dan Bangun Sekolah di Flores, Mike Lewis Ikut Aduk Semen

Ini pelajaran hidup yang didapat Mike Lewis.

Dany Garjito

Mike Lewis cerita perjalanan ke Flores yang memberinya pelajaran hidup. (Suara.com/Vessy Frizona)
Mike Lewis cerita perjalanan ke Flores yang memberinya pelajaran hidup. (Suara.com/Vessy Frizona)

Guideku.com - Selain traveling, Mike Lewis juga bangun sekolah di Flores.

Traveling sejatinya bukan semata-mata mencari kebahagiaan diri sendiri, tetapi melakukan perjalanan yang membuka pikiran dan hati untuk menemukan pelajaran hidup berharga dan berkontribusi bagi sesama.

Hal itulah yang dilakukan Mike Lewis setiap kali traveling.

Dikutip dari Suara.com, selama perjalanannya ke daerah-daerah di Indonesia yang jauh dari gegap gempita kehidupan kota metropolitan, ia merasa mendapat pengalaman berbeda yang banyak mengajarkannnya tentang makna hidup.

"Banyak daerah-daerah di Indonesia yang indah, apalagi di kawasan timur. Saya pernah ke Bali, Flores, Papua, semuammnya mengagumkan. Tapi masih banyak orang-orang di sana yang belum tersentuh kehidupan layak, khususnya pendidikan bagi anak-anak," ungkap Mike kala bercerita kepada Suara.com, Selasa (27/8/2019) di kawasan Jakarta Pusat.

Lebih jauh Mike bercerita tentang pengalamannya ke provisi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka mengikuti kegiatan sosial ketika diminta menjadi brand ammbasador oleh salah satu lembaga non-profit yang berfokus untuk membangun sekolah-sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Pulau Adonara yang terletak di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.  (suara.com/Rizka Chaerani)
Pulau Adonara yang terletak di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. (suara.com/Rizka Chaerani)

"Jadi sebelum saya terima tawaran saya ingin survei dulu kondisi di sana. Ternyata benar, pendidikan anak-anak masih kurang. Saya melihat anak-anak kecil usia golden age (0-5 tahun) kurang diperhatikan. Pemerintah lebih banyak memberi subsidi untuk sekolah dasar dan menengah," lanjut Mike.

Setelah berkeliling ke beberapa daerah di NTT, Mike Lewis merasa diteriman dan dicintai orang-orang asli di sana. Sehingga ia tergerak untuk ikut membangun sekolah yang sudah mulai dilakukan oleh lembaga non profit tersebut.

"Anak-anak di sana baik-baik sama saya, padahal saya bule, ngomong bahasa Indonesia aja susah tapi mereka menerima dengan suka cita. Saya selalu tersentuh melihat ketulusan anak Indonesia. Saya langsung tergerak ikut membangun sekolah. Ya, saya ikut gotong royong mengadung semen dan pasir, mendirikan bata, saya lakukan itu bersamamereka. Saya senang dan langsung menerima tawaran sebagai brand ammbasador, setelah menjadi volunteer dulu," tandasnya.

SUARA.com/Vessy Dwirika Frizona

Berita Terkait

Berita Terkini