Travel

Lebih Dekat dengan Wayang Wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit

Wayang wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit merupakan salah satu yang diburu banyak orang menjelang Natal.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Amertiya Saraswati

Wayang Wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit (Suara.com/Futty)
Wayang Wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit (Suara.com/Futty)

Guideku.com - Selama ini, pertunjukan wayang lekat hubungannya dengan kisah-kisah Mahabharata atau Ramayana. Namun, ternyata ada juga wayang yang banyak diburu jelang hari Natal tiba untuk membawakan kisah-kisah Kristiani.

Namanya adalah wayang wahyu. Berbeda dari wayang biasa, wayang wahyu menggambarkan berbagai tokoh dalam Alkitab termasuk Yesus Kristus.

Wayang wahyu merupakan suvenir yang diburu menjelang Hari Natal. Biasanya, wayang wahyu akan digunakan untuk pertunjukan mengenai kisah-kisah dalam alkitab sekaligus menyampaikan ajaran Kristiani.

Salah satu sentra pembuatan wayang wahyu yang laris manis dan terkenal ada di Ganjuran, Sumbermulyo, Bantul, Yogyakarta. Di sini, wisatawan bisa menemukan Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit dan Museum Wayang Beber Sekartaji.

Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit merupakan sentra wayang wahyu besutan Indra Setiawan. Pria ini juga dikenal dengan nama Indra Suroinggeno dalam dunia seni budaya.

Tak cuma merintis dan mendirikan Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit dan Museum Wayang Beber Sekartaji, Indra Setiawan juga merupakan pengrajin wayang wahyu.

Nama Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit sendiri terbilang cukup unik. Dalam kunjungan Suara.com ke sanggar tersebut belum lama ini, Indra Setiawan pun sempat menjelaskan makna di baliknya.

"Bhuana alit dalam satu ideologi berarti mikrokosmos. Mikrokosmos itu kan ada jagat alit, jagat ageng, istilahnya Tuhan yang mempribadi dalam diri kita," beber Indra Setiawan. "Artinya, kita fokus dalam diri pribadi untuk memberikan kebaikan."

Selain mempunyai makna filosofis, nama Bhuana Alit juga dapat berarti dunia anak-anak. Ya, di sini, anak-anak diajari untuk menjadi dalang pada pertunjukan wayang wahyu.

Sejak Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit dirintis pada 2014 silam, anak-anak SD di daerah sekitar akan berlatih mendalangi pertunjukan wayang setiap hari. Namun, kini latihan berubah menjadi sekali sepekan, yakni setiap hari libur.

"Yang latihan kebanyakan anak-anak Sanggar Bhuana Alit. Dulu ada 26, sekarang tinggal 10-15 anak."

Wayang Wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit (Suara.com/Futty)
Wayang Wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit (Suara.com/Futty)

Wayang wahyu sendiri mungkin memang masih asing bagi kita. Secara singkat, wayang ini ada sebagai media untuk menceritakan kelahiran Yesus Kristus.

"Berangkat dari definisi wayang, yaitu penggambaran karakter manusia dan alam semesta yang digerakkan oleh Tuhan. Di sini, dalang merepresentasikan sebagai Tuhan yang menggerakkan karakter manusia," jelas Indra Setiawan.

"Wayang sejak agama datang sudah dipakai sebagai media dakwah dan mengenalkan kepercayaan terhadap masyarakat. Wayang wahyu juga seperti itu, dulu digunakan untuk mengenalkan cerita Alkitab," tambahnya.

Tak heran, pertunjukan wayang wahyu pun paling laris diadakan saat Natal. Selain itu, wayang wahyu juga umum digelar saat Paskah, Kebangkitan Yesus Kristus, hingga untuk membawakan kisah-kisah Petrus, Kanisius, Bartholomeus, hingga kisah rasul dalam Alkitab.

Di luar itu, pertunjukan wayang wahyu juga bisa diadakan sesuai dengan momentum yang ada. Misalnya pada saat pesta nama wilayah hingga hari kemerdekaan Republik Indonesia.

"Jadi tidak melulu harus wayang cerita Alkitab, bisa dicampur nasionalisme dan kehidupan sehari-hari."

Bahasa dalam pertunjukan wayang wahyu ini tergolong fleksibel. Tak cuma bahasa Jawa, para dalang juga dapat menggunakan bahasa Indonesia hingga bahasa Inggris, menyesuaikan audiens yang datang.

Untuk Natal 2019 ini, pertunjukan wayang wahyu akan digelar di Gereja Ganjuran dengan bahasa Indonesia. Nantinya, mereka akan mengangkat kisah fabel yang digabungkan dengan peran Yesus sebagai pelindung.

Wayang Wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit (Suara.com/Futty)
Wayang Wahyu di Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit (Suara.com/Futty)

Selain dikenal sebagai sanggar seni untuk wayang wahyu dan wayang beber, Indra Setiawan ternyata juga memproduksi wayang wahyu untuk dijual.

Produksi ini sebisa mungkin dilakukan menuruti keinginan konsumen. Namun, setiap Natal dan Paskah, Indra Setiawan biasanya sudah menyiapkan stok set wayang sejak jauh-jauh hari agar pembeli tak perlu menunggu lama.

"Wayang wahyu di sini unik, saya membuat karakter Yesus dengan basis Ramawijaya, Maria dengan basis Shinta, jadi kombinasi-kombinasi yang menarik," tutur Indra Setiawan. "Wayang-wayang seperti itu sudah ada lama tapi dimodifikasi sedikit."

Tak cuma di dalam negeri, wayang wahyu ini juga sudah sampai ke luar negeri. Indra Setiawan memang belum menjualnya secara langsung. Meski begitu, ada konsumen yang membeli wayang wahyu sebagai suvenir sebelum ke luar negeri.

"Kemarin ada pesanan dari Amerika, kebetulan yang mengantar dari Dubes sana, untuk Natal anak-anak di Amerika."

Harga wayang wahyu di sini pun bervariasi. Ada suvenir wayang wahyu yang dibanderol Rp 10.000 saja. Ada juga gunungan emas yang dihargai Rp 3,5 juta.

Sementara, wayang wahyu yang standar dan paling sering dipesan dihargai Rp 650.000 per wayang karena dibuat dengan kulit kerbau sehingga kualitasnya pun terjamin.

Berita Terkait

Berita Terkini