Travel

Bakal Dievakuasi via Laut, Begini Kegusaran WNI di Kapal Diamond Princess

"Dengan jangka waktu selama itu, sama saja dengan kami dikarantina di sini, dong."

Rima Sekarani Imamun Nissa

Ilustrasi Kapal Pesiar. (pixabay.com/susannp4)
Ilustrasi Kapal Pesiar. (pixabay.com/susannp4)

Guideku.com - Warga negara Indonesia yang menjadi pekerja di kapal pesiar Diamond Princess mengaku kecewa setelah mendengar kabar mereka bakal dievakuasi melalui jalur laut guna menghindari penyebaran virus corona.

Sebab, evakuasi melalui jalur laut membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai daratan. Sementara, empat kru kapal pesiar Diamond Princess asal Indonesia telah dinyatakan terinfeksi virus corona.

Evakuasi lewat laut akan dilakukan menggunakan kapal medis milik Angkatan Laut, KRI DR Soeharso, yang saat ini bersandar di dermaga Komando Armada Dua (Koarmada II) Surabaya, Jawa Timur.

Kamis (20/02) malam lalu, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji telah menggelar rapat koordinasi, sekaligus mendengarkan pemaparan kesiapan KRI Dr Soeharso untuk mengevakuasi WNI di Kapal Diamond Princess.

Ilustrasi kapal. (Pexels/Skitterphoto)
Ilustrasi kapal. (Pexels/Skitterphoto)

Butuh 34 hari untuk evakuasi lewat laut

Dalam paparannya, disampaikan perkiraan perjalanan Surabaya ke Yokohama di Jepang melalui Davao (Filipina) akan memakan waktu 11 hari.

Setelah proses evakuasi, perjalanan dari Yokohama ke Surabaya melalui Ranai, Natuna, diprediksi sekitar 15 hari. Total lama perjalanan termasuk waktu sandar di pelabuhan dan upaya evakuasi mencapai 34 hari.

Selain melaporkan kesiapan KRI Dr Soeharso, pada rapat tersebut dijelaskan pula proses evakuasi akan melibatkan 153 awak kapal, termasuk personel petugas kesehatan.

Pilihan menggunakan KRI Dr Soeharso menjadi skenario pertama pemulangan kru kapal asal Indonesia dari kapal Diamond Princess, menyusul merebaknya virus corona di kapal pesiar itu awal Februari lalu.

Ingin pulang lebih cepat

Walau menyambut baik pilihan evakuasi ke Indonesia, yang mulai lebih jelas dibanding hari-hari sebelumnya, perjalanan laut ini dipertanyakan oleh kru kapal asal Indonesia, seperti yang diakui oleh Sasa.

"Kami memang 'upset' karena mendengar di berita katanya mau dijemput dengan kapal medis, dan penjemputannya [dari Indonesia ke Jepang] itu lama, empat belas hari."

"[Dengan jangka waktu selama itu], sama saja dengan kami dikarantina di sini, dong. Jika sudah selesai dikarantina di sini, sebenarnya kami juga akan diberi free tiket pesawat dari perusahaan," ungkap Sasa, salah satu kru kapal pesiar asal Indonesia kepada Hellena Souisa dari ABC News.

"Bayangkan, kami di sini bakal dikarantina 14 hari, kalau misalnya bakal dijemput pakai kapal, berarti nanti [bertambah] 14 hari lagi," ucapnya.

"Memang [dipulangkan dengan kapal] belum pasti juga sih, tapi [kami] hampir putus harapan untuk dipulangkan lebih awal."

Ilustrasi penyebaran virus corona. (Pixabay/Gerd Altmann)
Ilustrasi penyebaran virus corona. (Pixabay/Gerd Altmann)

Cek kesehatan masih berlangsung

Sementara itu, pemeriksaan kesehatan terhadap awak kapal sudah mulai dilakukan secara bertahap sejak hari Kamis pekan kemarin.

"Kemarin sore sebagian sudah mulai dicek kesehatannya. Saya baru dapat giliran siang ini," Sasa menjelaskan.

"Di tesnya di tenggorokan, seperti cotton bud yang besar, dimasukkan ke tenggorokan," tuturnya. "Kemudian diambil air liur dan lendir di tenggorokan."

Meski demikian, ia tetap bekerja seperti biasa, dengan lebih dari 10 jam sehari, karena sebagian besar penumpang baru pulang hari Jumat (21/02) lalu.

"Sasa masih bekerja seperti biasa ... setelah ini, kembali lagi kerja."

Sementara itu, dua penumpang asal Australia yang baru saja dipulangkan dari kapal Diamond Princess terkonfirmasi positif terjangkit virus corona setelah dites.

Warga Australia lainnya, Trevor Overton, yang juga baru dievakuasi dari kapal pesiar dan sedang dikarantina, mengaku tak kaget mendengar kabar penumpang yang terinfeksi corona.

"Saat kami berada di kapal, kami melihat banyak penumpang yang tidak mengikuti instruksi, misalnya, tidak mengenakan masker dan merokok. Sangat susah untuk mengendalikan atau memantau 3.800 orang di atas kapal."

Status karantina di kapal pesiar diberlakukan dua minggu sejak 4 Februari lalu. Jumlah orang yang didiagnosa virus corona bertambah.

Profesor Satoshi Hori dari Pengawasan Infeksi di Universitas Juntendo, Tokyo mengatakan adanya kasus-kasus baru bukan menandakan proses karantina telah gagal.

"Saya yakin tes hanya dilakukan bertahap, karenanya kasus-kasus baru dilaporkan," ujarnya.

Namun, sebuah institut penyakit menular di Australia mempertanyakan alasan kapal pesiar ditutup dan penumpangnya dilarang berpergian.

"Akan lebih baik jika mereka turun dari kapal sejak awal dan dikarantina dengan diisolasi di lingkungan yang layak," kata Professor Ian Mackay.

ABC juga menemukan pihak otoritas kesehatan di Jepang saat itu tidak melakukan tes kepada semua orang di kapal pesiar. Fasilitas pemerintah cuma dapat melakukan tes 300 sampel setiap harinya sehingga akan sulit dengan total 3.600 orang yang berada di atas kapal.

Sebanyak dua penumpang, berusia 80 tahun, meninggal akibat virus corona, seperti yang dilaporkan media Jepang NHK.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, mengatakan lebih dari setengah kasus corona di luar China terjadi di kapal pesiar Diamond Princess. (Reza Gunadha)

Berita Terkait

Berita Terkini