Travel

Asal Muasal Jancok, Ternyata Begini

Beda guna, beda tafsir.

Dinar Surya Oktarini | Aditya Prasanda

(Pixabay Asish Choudary)
(Pixabay Asish Choudary)

Guideku.com - "Ojo meneng ae, cok!" (jangan diam doang, cok!) demikian ungkapan ini familiar digunakan di kawasan Jawa Timur.

Cok, kata sapaan dalam frasa tersebut merupakan singkatan dari Jancok kerap pula ditulis sebagai dancok, jancuk, ancuk maupun coeg, merupakan ungkapan keakaraban yang acap digunakan komunitas masyarakat di Jawa Timur, terutama Surabaya dan sekitarnya.

Banyak yang mengasosiasikan kata ini dengan sesuatu yang berkonotasi buruk dan negatif, sementara di Jawa Timur, jancok merupakan perlambang jalin keakraban.

Sejarah mencatat, jancok memiliki beragam latar belakang yang berbeda. Bahkan cara penyampaian pun dapat berbeda jika digunakan dan disampaikan dengan maksud tertentu.

Maka tak heran, intonasi dan bunyi Jancok bisa memunculkan penafsiran yang beragam saat diterapkan dalam beragam aktivitas.

Guideku.com mencoba menelusuri sejarah kata ajaib ini melalui berbagai sumber.

1. Versi kamus dan penelitian Jaseters

Menilik Kamus Daring Universitas Gadjah Mada, istilah jancok melambangkan ekspresi kekecewaan, amarah dan keheranan yang teramat, maknanya pun dapat disejajarkan dengan kata umpat, ''sialan, keparat, berengsek.''

Hal yang sama juga diamini badan penelitian Jaseters yang menyebut Jancok sebagai ungkapan kekecewaan yang berkembang dari kata Jan yang berarti ''teramat sangat'' dan Cak yang berarti ''kakak''.

Konon, dua gabungan kata ini digunakan untuk menyampaikan kekecewaan pada seorang kerabat yang lebih tua, lantas berkembang menjadi jancok yang kita kenal hari ini.

2. Versi Arab

Ada pula sumber yang menyebut, jancok merupakan pengembangan dari kata berbahasa Arab, Da'Suk yang artinya kurang lebih, ''tinggalkanlah keburukan'.

3. Versi zaman penjajahan

Beberapa sumber juga menyebut, jancok merupakan pengembangan dari ungkapan Belanda, yakni ''yantye ook'' yang artinya ''kamu juga''.

Konon remaja Indonesia di zaman kolonial mengadaptasi kata tersebut menjadi ''yantcook'' yang difungsikan untuk mengolok-olok warga Belanda.

Kata tersebut kemudian berkembang hingga kita kenal hari ini menjadi jancok.

4. Versi masyarakat Palemahan di Surabaya

Masyarakat Kampung Palemahan di Surabaya memiliki sejarah unik dengan kata jancok sendiri.

Selaras dengan kamus daring UGM dan penelitian Jaseters, di Palemahan, jancok merupakan perlambang ungkapan kekecewaan.

Jancok bagi warga Palemahan merupakan akronim dari umpatan 'Marijan Encuk' artinya 'Marijan berhubungan badan'.

Encuk sendiri merupakan kata berbahasa Jawa yang artinya 'berhubungan badan'.

Kata ini kemudian berkembang menjadi jancok yang kita kenal hari ini.

(Instagram Olichel)
(Pixabay Olichel)

Di luar keempat latar sejarah tersebut, versi lebih simpatik menyebut jancok bukanlah kata berkonotasi buruk, sesungguhnya.

Seperti halnya banyak kata ungkapan lain seperti 'anj*ng', pemaknaannya akan bergeser ketika seseorang menggunakannya dengan maksud tertentu.

Sujiwo Tejo menjelaskan hal ini secara rinci dalam bukunya Jiwo Jancuk.

''Jancuk'' itu ibarat sebilah pisau. Fungsi pisau sangat tergantung dari user-nya dan suasana psikologis si user. Kalau digunakan oleh penjahat, bisa jadi senjata pembunuh. Kalau digunakan oleh seorang istri yang berbakti pada keluarganya, bisa jadi alat memasak. Kalau dipegang oleh orang yang sedang dipenuhi dendam, bisa jadi alat penghilang nyawa manusia. Kalau dipegang orang yang dipenuhi rasa cinta pada keluarganya bisa dipakai menjadi perkakas untuk menghasilkan penghilang lapar manusia. Begitupun 'jancuk', bila diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti. Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, 'jancuk laksana pisau bagi orang yang sedang memasak. “Jancuk” dapat mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan.''

Nah sudah tahu kan. Menarik ya, cok!

Berita Terkait

Berita Terkini