Food

Tak Ada Makanan saat Kelaparan, Tiga Bocah Ini Hampir Tiap Hari Makan Sabun

Mereka terpaksa makan sabun karena tak ada yang bisa dimakan saat lapar.

Rima Sekarani Imamun Nissa

Ilustrasi sabun batang. (Pixabay/silviarita)
Ilustrasi sabun batang. (Pixabay/silviarita)

Guideku.com - Saat kaum elite dan koruptor tidur nyenyak dengan perut kenyang, ada tiga bocah kakak beradik yang terpaksa makan sabun cuci lantaran tidak ada lauk pauk di rumah mereka.

Ketiga kakak beradik itu adalah Novri yang masih berusia 9 tahun, si anak  tengah Juliandi (7), serta si bungsu Andika (4). Mereka tinggal di rumah nenek bernama Soriani Batubara yang sudah renta, 80 tahun.

Kisah mereka diketahui publik setelah diberitakan oleh media lokal MedanMerdeka.com, Minggu (23/2/2020) akhir pekan kemarin, serta disebar oleh banyak warganet di media-media sosial sehingga viral.

Ketiga bocah tersebut berada di Desa Muara Tais II, Kecamatan Angkola Muara Tais, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

"Hampir setiap hari mereka memakan sabun cuci karena tidak ada makanan untuk menghilangkan rasa lapar di perutnya," begitu lapor MedanMerdeka.com.

Hal itu menjadi ironi, lantaran pada halaman rumah Nenek Soriani, terpampang plang Posyandu berupa imbauan agar anak-anak bertambah umur, berat, serta sehat.

Ilustrasi sabun cuci atau deterjen. (Pixabay/karunasanghvi)
Ilustrasi sabun cuci atau deterjen. (Pixabay/karunasanghvi)

Bocah-bocah itu tinggal di rumah nenek mereka yang sederhana. Bangunan berukuran enam kali enam meter itu adalah peninggalan sang kakek.

Ayah mereka, Rosul (45), bekerja serabutan sehingga belum tentu berpenghasilan setiap hari. Rosul baru bisa membawa pulang uang untuk makan sekeluarga jika mendapat orderan mencangkul dan membersihkan kebun.

Jika tak ada orderan mencangkul atau menjadi buruh tani, tidak pula ada secuil lauk pauk maupun nasi bisa dihidangkan kepada keluarga. Sedangkan sang ibu ketiga itu, sudah lama pergi menikah dengan lelaki lain.

Meski demikian, Novri dan Jualiani kekinian masih tercatat sebagai siswa SDN Muara Tais II. Novri duduk di kelas III.

"Jika dilihat, Novri dan adik-adiknya tampak kurang gizi. Selain kurus, wajanya juga mulai tampak menguning. Namun begitu, siswa ini tampak semangat mengasuh kedua adik-adiknya," tulis MedanMerdeka.com.

Ilustrasi Sabun Hotel (Pexels/Tabitha Mort)
Ilustrasi Sabun (Pexels/Tabitha Mort)

Tetangga tak jarang memberikan sumbangan kepada Nenek Soriani, yang olehnya dibelikan makanan untuk ketiga cucu. Namun, sumbangan itu tidak bisa jadi tumpuan.

Warga setempat mengakui, kebiasaan ketiga bocah itu memakan sabun sudah lama dilakukan. Mereka juga mengakui sudah beberapa kali meminta Novri melarang adik-adiknya makan sabun.

"Kalau mencuci di sungai, adik-adiknya makan sabun. Bahkan Novri juga. Ya terpaksa karena lapar, tak ada yang bisa dimakan," kata warga.

Sang nenek mengakui hal tersebut. Namun, ia menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tak memunyai penghasilan.

Soriani kekinian cuma berharap perhatian dan bantuan pemerintah setempat. Dia mengklaim, tidak pernah mendapatkan bantuan program keluarga harapan (PKH), kartu sehat, beras raskin, bahkan program bantuan sekolah buat cucu-cucunya.

"Tidak pernah saya dapatkan. Saya sendiri baru dengar ini," ujar Soriani. (Reza Gunadha)

Berita Terkait

Berita Terkini