Travel

Guideku.com Wisata ke Benteng Vredeburg, Sampai Lupa Waktu, Sis!

Tes kemampuan sejarahmu di Museum Benteng Vredeburg!

Dany Garjito | Amertiya Saraswati

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Guideku.com - Museum Benteng Vredeburg merupakan salah satu museum yang terkenal di Yogya. Banyak wisatawan dari luar kota maupun turis asing yang berkunjung kemari.

Hari ini, Guideku.com berkesempatan untuk mengunjungi Museum Benteng Vredeburg dan napak tilas perjuangan bangsa Indonesia.

Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB kala kami tiba di Vredeburg. Setelah parkir dan membayar tiket masuk Benteng Vredeburg terbaru seharga Rp 3.000 (harga untuk pengunjung dewasa perorangan), kami pun mulai menelusuri museum ini.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Begitu menginjakkan kaki di halaman utama, kami disambut halaman utama museum yang luas, bersih, dan asri. Tampak beberapa patung dan replika meriam yang menghiasi, juga bangku batu panjang untuk beristirahat.

Salah seorang staff museum ini mengarahkan kami untuk berbelok kanan dan memasuki bangunan Diorama 1. Rupanya, ini adalah titik awal untuk memulai tur sejarah Indonesia.

Memasuki ruang Diorama 1, kami langsung disuguhi kisah mengenai Perang Diponegoro.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Uniknya, museum ini menceritakan sejarah yang ada melalui koleksi diorama yang detail sekaligus menarik. Dijamin kamu tidak bakal bosan, deh!

Setelah Perang Diponegoro, Diorama 1 ini juga berisi kisah pembentukan organisasi-organisasi perjuangan seperti Budi Utomo, Muhammadiyah, dan Jong Java.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Napak tilas di Diorama 1 berakhir dengan diorama masuknya Jepang ke Indonesia.

Kami lalu berpindah ke Diorama 2, yang terletak di seberang Diorama 1.

Di sini, tur sejarah berganti memasuki era proklamasi. Terdapat patung Ibu Fatmawati yang sedang menjahit bendera Indonesia di bagian depan.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Diorama di gedung kedua ini menggambarkan bagaimana perjuangan rakyat Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih.

Dari sini, kami belajar bahwa perjuangan rakyat Indonesia saat itu benar-benar patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya.

Terdapat juga diorama para pejuang bangsa yang sedang mengganti bendera Hinomaru (Jepang) dengan bendera Indonesia.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Ada juga diorama saat pejuang Indonesia melucuti para tentara Jepang, hingga kedatangan Soekarno dan tokoh besar lainnya ketika hijrah ke Yogya.

Yang paling menarik, ada diorama yang membahas bagaimana peran para seniman dalam menyemangati perjuangan bangsa.

Saking detailnya, kamu bisa melihat tulisan dalam poster yang mereka buat, lho.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Tidak hanya itu, Diorama 2 juga membahas proses pendirian Universitas Gadjah Mada. Di sini, kami berkesempatan melihat barang-barang peninggalan Prof. Dr. Sardjito—rektor pertama UGM.

Memasuki Diorama 3, suasana berubah sedikit lebih suram.

Ketika melangkah masuk ke Diorama 3, kami disambut lukisan tembaga besar yang menggambarkan kondisi rakyat Indonesia di kala itu.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Fokus utama di Diorama 3 ini adalah kisah mengenai Agresi Militer II yang dilakukan Belanda.

Berkat petualangan kecil-kecilan di museum ini, kami jadi tahu betapa susahnya taktik gerilya yang digunakan para pejuang Indonesia. Diorama yang ada benar-benar sukses menggambarkan ngerinya kondisi di Yogyakarta saat itu.

Dibandingkan ruang Diorama lainnya, ruang Diorama 3 ini juga paling menarik. Terdapat layar touchscreen berukuran besar untuk bermain game mengenai sejarah Indonesia.

Iseng-iseng, kami pun sempat mencoba memainkan game tersebut. Saking serunya, jadi berasa lupa umur, deh.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Tidak hanya game, ada juga wahana interaktif yang dipenuhi patung-patung seukuran manusia, lho! Kami sempat terkejut saat memasuki wahana interaktif ini.

Alasannya, wahana interaktif ini berisi patung tentara Belanda dan Indonesia yang sedang saling bertarung. Wah, baru masuk sudah ditodong senjata, siapa yang nggak kaget, sih?

Sayangnya, kita tidak diizinkan untuk berfoto dengan patung-patung ini.

Setelahnya, kami berpindah ke Diorama 4 atau diorama terakhir di museum ini. Bangunan Diorama 4 bisa dibilang cukup kecil jika dibandingkan ketiga diorama sebelumnya.

Meski begitu, kami jadi tahu bahwa ada dua korban pemberontakan G30S/PKI di Yogya. Kedua korban ini adalah Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono.

Pada diorama, kami bisa melihat tentara Indonesia yang sedang menggali jenazah mereka.

Ada juga replika baju yang dikenakan Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono. Bisa dibilang, spot satu ini adalah spot yang paling sukses membuat kami merinding ngeri karenanya.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Kisah napak tilas sejarah di museum ini berakhir pada masa Orde Baru yang dipimpin Soeharto.

Setelah lelah menelusuri keempat diorama, kami menyempatkan diri untuk duduk-duduk sejenak di bawah kanopi rindang yang tersedia.

Yang mengejutkan, ada cukup banyak turis dari luar negeri yang berkunjung kemari. Karena penasaran, Guideku.com pun menyempatkan diri untuk mengobrol sejenak dengan turis-turis ini.

Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)
Review Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta (suara.com/Amertiya)

Pertama, kami mengobrol dengan pasangan suami-istri dari New Zealand.

Keduanya berkata bahwa Museum Benteng Vredeburg ini sangat menarik dan berkesan. Mereka juga senang karena bisa belajar sejarah Indonesia yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Yang mengejutkan, orang kedua yang kami ajak ngobrol ternyata datang dari Belanda!

“Ini sangat mengesankan. Saya jadi bisa membandingkan sejarah yang dipelajari di negara saya dengan sejarah yang ada di Indonesia.” Begitu kata sang turis yang datang jauh-jauh dari Belanda ini.

Tidak hanya itu, kami juga mendapat info kalau para turis asing ini mendapatkan guide book untuk membantu mereka memahami sejarah yang ada.

Sejauh pengamatan kami, para turis asing ini tampaknya benar-benar senang dengan fasilitas yang diberikan Museum Benteng Vredeburg. Mereka juga menunjukkan ketertarikan yang besar pada setiap diorama yang ada.

Perjalanan kami menelusuri jejak sejarah Indonesia akhirnya berakhir sekitar pukul 12.30 WIB. Wah, ternyata cukup lama juga ya?

Itu pun kami belum sempat berfoto-foto seru di sekitar area museum. Memang, Benteng Vredeburg ini terkenal dengan spot-spot foto yang instagramable banget.

Selain bangunannya yang tampak kuno dan antik, kebersihannya pun masih terjaga dengan baik.

Bagaimana? Apa kamu jadi tertarik untuk mengunjungi Museum Benteng Vredeburg setelah membaca review ini?

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Alamat: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122

Hari buka: Selasa – Minggu pukul 7.30 – 16.00 (Senin tutup)

Harga tiket:

Dewasa perorangan: Rp 3.000

Dewasa rombongan (min 20): Rp 2.000

Anak-anak perorangan (TK s.d. SMP): Rp 2.000

Anak-anak rombongan (min 20): Rp 1.000

WNA: Rp 10.000

Harga dan informasi lainnya dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Berita Terkait

Berita Terkini