Travel

Wajib Tahu, Begini Sejarah di Balik Megahnya Bangunan Keraton Yogyakarta

Sering lewat Keraton Yogyakarta? Sudah tahu sejarah di baliknya belum?

Dany Garjito | Arendya Nariswari

Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)
Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)

Guideku.com - Yogyakarta dikenal dengan segudang keistimewaanya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Salah satu destinasi wisata budaya sekaligus sejarah yang wajib disambangi yakni Keraton Yogyakarta.

Sarat akan sejarah, istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini beralamat di Jalan Rotowijayan Blok Nomor 1, Panembahan, Kraton, Yogyakarta.

Di balik megahnya Keraton Yogyakarta ini terdapat sejarah yang penuh dengan makna.

Sejarah ini bermula dari abad ke-16, di mana terdapat kerajaan Islam bernama Mataram.

Berpusat di Kota Gede, kerajaan ini perlahan pindah menuju Kerta, Plered, Kartasura, kemudian Surakarta.

Seiring berjalannya waktu, kedaulatan Mataram sedikit terganggu akibat adanya intervensi dari Belanda.

Lantas, muncul gerakan anti penjajah di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi yang kemudian melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)
Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)

 

Dem mengakhiri perselisihan itu, akhirnya terjadilah Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari.

Setelah Perjanjian Giyanti. tepat pada tanggal 13 Maret 1755, pada akhirnya dikumandangkan Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kemudian tepat pada 9 Oktobber 1755, Sri Sultan Hamengkubuwono I mulai melakukan pembangunan Keraton Yogyakarta.

Konon katanya, lokasi tempat berdirinya Keraton Yogyakarta ini tadinya merupakan pesanggrahan bernama Garjitawati.

Proses pembangunan Keraton Yogyakarta ini memakan waktu kurang lebih 1 tahun. Saat proses pembangunan, Sri Sultan Hamengkubuwono I bersama keluarga sementara tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang.

Setelah selesai dibangun, keluarga dan kerabat kerajaan memasuki Keraton Yogyakarta tepat pada tanggal 7 Oktober 1756.

Hingga saat ini, tanggal 7 Oktober ini juga diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta.

Pada tanggal 20 Juni 1812, Inggris sempat berhasil memasuki wilayah Keraton Yogyakarta.

Saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono II sempat dipaksa untuk turun tahta. Sementara itu, Sri Sultan Hamengkubuwono dipaksa untuk menyerahkan sebagian wilayahnya untuk Pangeran Notokusumo.

Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)
Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)

 

Di mana Putera Sri Sultan Hamengkubuwono ini sempat diangkat sebagai Adipati Paku Alam I oleh Inggris.

Pada akhirnya, wilayah Kasultanan sebagian diberikan kepada Paku Alam I di bagian Kulonprogo bagian selatan serta bersifat otonom dan bisa diwariskan kepada keturunan Pangeran Notokusumo.

Tepat pada tanggal 17 Maret 1813, akhirnya Adipati Paku Alam I mendeklarasikan berdirinya Kadipaten Pakualaman.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono segera mengucapkan selamat atas berdirinya republik baru.

Kemudian tepat pada 5 September 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta Sri Paduka Paku Alam VIII mengeluarkan amanat serta menyatakan bahwa wilayahnya bersifat kerajaan dan menjadi bagian dari negara Republik Indonesia.

Presiden Soekarno menerima amanat tersebut dan menetapkan Sri Sultan Hamengkubuwono dan Adipati Paku Alam sebagai dwi tunggal pemegang kekuasaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta sendiri sampai saat ini masih menjadi tempat tinggal sultan.

Menariknya, sejumlah sudut Keraton Yogyakarta kini sengaja dijadikan objek wisata budaya sekaligus edukasi untuk melestarikan tradisi.

Terdapat dua bagian yang dapat dikunjungi oleh wisatawan, pertama yakni area pagelaran .

Di sini wisatawan bisa melihat perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sejak zaman penjajahan Belanda lewat sebuah relief.

Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)
Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)

 

Kemudian di sisi kanan dan kiri pagelaran terdapat etalase kaca yang memperlihatkan adat serta tradisi budaya mulai dari upacara kelahiran sampai dengan pernikahan.

Untuk bagian depan Keraton Yogyakarta ini berikut rincian harga tiket pengunjung :

1. Wisatawan domestik Rp 5.000 per orang

2. Wisatawan asing Rp 7.000 per orang

3. Khusus untuk pengambilan gambar menggunakan ponsel atau kamera Rp 2.000 per item.

Tepat di bagian belakang pagelaran atau Siti Hinggil, wisatawan juga bisa masuk untuk melihat koleksi sampai dengan cinderamata bersejarah sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I.

Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)
Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)

 

Untuk masuk ke area museum batik, cinderamata peninggalan Keraton Yogyakarta di area keben ini berikut rincian tiket yang harus dibayar oleh wisatawan atau pengunjung :

1. Wisatawan domestik : Rp 7.500 per orang

2. Wisatawan asing : Rp 12.500 per orang

3. Izin foto atau video menggunakan kamera : Rp 1.000 per item.

Jika Anda suka dengan musik gamelan, bisa datang ke Keraton Yogyakarta ini pada hari Senin dan Selasa mulai pukul 09.30 WIB.

Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)
Keraton Yogyakarta. (Arendya/Guideku.com)

 

Kemudian wisatawan juga bisa menyaksikan pagelaran wayang golek menak di hari Rabu.

Pada hari Kamis juga terdapat pertunjukan seni tari yang sayang jika Anda lewatkan.

Di hari Jumat, wisatawan juga dapat mendengarkan macapat lho. Kemudian Sabtunya terdapat pula pertunjukan wayang kulit.

Keraton Yogyakarta dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00-14.00 WIB. Oh iya, khusus hari Jumat, Keraton Yogyakarta ini hanya buka mulai pukul 08.00-12.00 saja ya!

Jadi bagaimana? Sudah siap untuk menjelajahi Keraton Yogyakarta ini?

Berita Terkait

Berita Terkini