Travel

Mulia, Pasangan Ini Mendaki Everest Demi Edukasi Alzheimer

Edukasi alzheimer di Gunung Everest yang dilakukan pasutri ini cukup unik lho.

Silfa Humairah

Pendaki Gunung Everest (Pixabay/12019)
Pendaki Gunung Everest (Pixabay/12019)

Guideku.com - Hobi traveling seperti mendaki ternyata baik untuk fisik dan mental. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengedukasi masyarakat seputar kesehatan tubuh dan mental tersebut. Maka pasangan suami istri Pao Pheng dan Hadikin Setiawan, yaitu mendaki Everest untuk edukasi seputar penyakit alzheimer.

Lho kok sosialisasi alzheimer di Gunung Everest?

Cinta gunung, adalah salah satu alasan mengapa pasutri ini memilih mendaki Puncak Everest untuk melakukan campaign ini. Tapi tak hanya itu, menurut Pao, tracking atau naik gunung adalah salah satu olahraga yang bisa mencegah alzhaimer demensia atau pikun.

Puncak Everest bukanlah tempat sembarangan. Dengan ketinggan di atas 5000 mdpl (meter di atas permukaan laut), Pao dan Hadikin berhasil menjejakkan kaki di puncak tersebut setelah menempuh perjalanan selama 12 hari. Sukses itu terbayar setelah persiapan selama 6 bulan yang digunakan untuk melakukan latihan fisik, stamina, dan administrasi.

Pasutri Pao dan Hadikin, Mendaki Everest Demi Edukasi Alzheimer. (Dok. Alzi Indonesia)
Pasutri Pao dan Hadikin, Mendaki Everest Demi Edukasi Alzheimer. (Dok. Alzi Indonesia)

"Mendaki gunung perlu proses, nggak langsung instan, jadi perlu persiapan, latihan fisik, dan lain-lain. Kita educate nggak perlu naik gunung, hobi apapun skill yang dipunya, bisa lho lakukan sesuatu yang good cause," ujar Pao kepada Suara.com beberapa waktu lalu di Jakarta.

Kenapa memilih mendaki gunung? Menurut Pao, sepanjang perjalanan pendakian, ia dan suami selalu menggunakan kaos Everest for Alzi 2019. Tujuannya adalah untuk menggugah rasa ingin tahu orang-orang yang berpapasan dengan mereka.

Dan terbukti, banyak orang yang bertanya tentang kaos itu. Mereka kemudian menjelaskan campaign tentang penyakit alzhaimer atau penyakit pikun yang bisa dicegah sejak usia muda.

"Banyak orang-orang yang tadinya nggak pernah contact kita, jadi nanya. Oh, siapa yang alzhaimer. Ternyata mereka membuka sharing, mereka langsung support kita, yuk. Karena jarang orang yang membahas tentang demensia alzhaimer. Padahal banyak orang yang terkena gejala seperti itu," ungkap Pao.

Pao Pheng, Mendaki Everest Demi Edukasi Alzheimer. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Pao Pheng, Mendaki Everest Demi Edukasi Alzheimer. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Keluarga Pao sendiri ada turunan alzheimer, yakni ibu Pao yang menderita penyakit tersebut.

"Jadinya saya dan suami melihat kondisi keluarga, kami punya kesepakatan, menjadi tua itu pasti, tapi menjadi tua yang seperti apa bisa kita lakukan dari sekarang. Dan salah satunya mengurangi stres sama berolahraga. Kebetulan karena kita suka naik gunung, kita mau melakukan edukasi itu melalui pendakian gunung," jelasnya.

Di sisi lain, nama Everest adalah salah satu tempat menarik untuk menjadi acuan. Itu sebabnya, Everest Basecamp dijadikan sebagai tempat untuk penggalangan dana yang dikenal Everest for Alzi 2019.

"Jadi selama 6 bulan, dari 1 April sampai 30 September 2019, 6 bulan, targetnya 10 ribu dolar (setara Rp 140 juta), orang bisa kasih dalam bentuk dolar atau rupiah. Waktu itu kita pakai platform, jadi bisa siapapun otomatis yang kita hubungi terlebih dahulu adalah orang yang kita kenal," tutupnya.

Wah bermanfaat sekali pesan yang ingin disampain pasangan ini, mendaki gunung Everest sambil berbagi informasi soal alzheimer. Travelers boleh coba aksi ini? (Dini Afrianti Effendi)

Berita Terkait

Berita Terkini