Food

Dampak COVID-19, Pemerintah China akan Hukum Penjual Binatang Liar

Kini, pemerintah China akan tegas menghukum mereka yang menjual dan memakan kuliner binatang liar.

Yasinta Rahmawati | Amertiya Saraswati

Ilustrasi kelelawar. (Pixabay/dustinthewind)
Ilustrasi kelelawar. (Pixabay/dustinthewind)

Guideku.com - Semenjak awal penyebaran virus corona baru atau yang kini dinamai COVID-19, pasar yang menjual binatang liar dan kuliner ekstrem lainnya di Wuhan, China terus menjadi sorotan.

Meski awalnya diprediksi berasal dari kelelawar dan ular, belum lama ini ilmuwan menyebut jika hewan trenggiling yang dikonsumsi masyarakat China memiliki andil dalam menyebarkan virus corona.

Menanggapi penyebaran wabah COVID-19, pemerintah China pun akhirnya memutuskan untuk memberikan larangan permanen terhadap penjualan dan konsumsi binatang liar ilegal.

Dilansir dari laman Next Shark, pengumuman soal larangan menjual dan mengonsumsi binatang liar ini diumumkan pada hari Senin (24/02/2020) lalu.

Lewat pengumuman tersebut, pemerintah menegaskan jika kegiatan berburu, menjual dan mentransportasikan hewan liar yang hidup di alam untuk dikonsumsi telah dilarang keras.

Ilustrasi Trenggiling (Wikimedia Commons)
Ilustrasi Trenggiling (Wikimedia Commons)

Keputusan ini sendiri dibuat agar konsumsi binatang liar tak lagi terjadi, sekaligus untuk menangkap perdagangan ilegal binatang.

Sementara, hewan liar yang digunakan untuk kepentingan obat, pameran, atau riset sains harus melewati pemeriksaan ketat dan persetujuan lebih dulu.

Sebelumnya, pemerintah China sendiri memang sudah melarang penjualan dan konsumsi binatang liar bersamaan dengan merebaknya virus corona pada Januari silam.

Namun, saat itu larangan masih bersifat sementara dan belum dibuat permanen seperti sekarang.

Berita Terkait

Berita Terkini