Food

Tuuutt Tuuuutt! Si Kue Putu Bambu yang Jadul Tapi Jadi Buruan

Tuuutt... tuuuttt... tuuutttt. Siapa yang tak kenal bunyi tersebut yang kerap lewat di depan rumah?

Rendy Adrikni Sadikin

Kue Putu Bambu.(Joglosemarnews.com/Lisa Ariyani)
Kue Putu Bambu.(Joglosemarnews.com/Lisa Ariyani)

Guideku.com - Tuuutt... tuuuttt... tuuutttt. Siapa yang tak kenal bunyi tersebut yang kerap lewat di depan rumah? Jika ada bunyi tersebut, buruan dikejar karena penjual santapan kue putu bambu sedang lewat depat rumah kamu lho.

Bunyi tuutt itu memang keluar dari pipa uap yang ada di gerobak. Tak pelak, inilah yang menjadi salah satu ciri khas dari kue putu bambu, jajanan tradisional yang cukup melegenda di masyarakat.

Kini, pedagang kue putu bambu memang jarang ditemui. Tapi, sejatinya masih banyak lho masyarakat yang demen dengan kue putu bambu. Bayangkan, bahan dasar tepung beras dipadu gula Jawa membuat kue ini terasa gurih dan manis.

Parman, merupakan salah satu pedagang yang tetap setia menjajakan kue putu bambu untuk menyambung hidup. Biasanya, Parman berjualan di depan SPBU Suroboyo Jambangan, Kebayanan 1, Jirapan, Masaran, Sragen, Jawa Tengah.

Saban pagi, dia berjualan di Pasar Pucuk Masaran, sorenya dia melipir ke depan SPBU Suroboyo Jambangan. Tiap berjualan, dia membawa 1,5 kilogram tepung beras. Yah, namanya jualan, tentu ada untung ruginya. Ada laris atau apesnya.

Apabila suatu ketika lagi sepi dan dagangan tidak habis, tepung beras itu sia-sia. Alhasil, hanya dijadikan sebagai makanan ayam.

“Paling saya bawa tepungnya 1,5 kilogram. Kalau enggak habis ya sudah, wassalam paling buat makanan ayam aja,” tuturnya seperti dilansir dari Joglosemarnews.com--jaringan Suara.com--, Kamis (23/1/2020).

Parman mengaku tidak berani memakai tepung beras yang sudah tidak dipakai. Kualitas bagi Parman merupakan nomor satu. Tepungnya juga harus bagus. Apalagi berasnya, tidak boleh sembarangan.

“Kalau tepungnya bikin sendiri, dadakan. Jadi bikin langsung jualan,” tuturnya.

Kendati kini sudah jarang ditemui, kue putu bambu masih diburu oleh para pembeli. Bahkan, pembeli rela mengantre panjang. Maklum, proses pembuatannya menggunakan uap kecil guna untuk melelehkan gula merah karena tepungnya sendiri telah dikukus terlebih dahulu.

“Terkadang saya tidak enak sama pembeli, karena mereka harus nunggu lama. Tapi ya mau gimana lagi uapnya tidak bisa dicepetin,” tambahnya.

Walau harus menunggu lama, hal itu tidak menyurutkan niat pembeli untuk dapat menikmati Kue Putu Bambu.Rasa kue yang gurih bertemu dengan gula merah menjadi satu membuat lumer dalam setiap gigitannya, apalagi ditambah dengan parutan kelapa.

“Saya sering beli, tapi kadang susah dicari karena jarang. Udah langka makanya antri gak apa-apa karena kuenya enak,” tutur Rani (25)salah satu pembeli Kue Putu Bambu.

Berita Terkait

Berita Terkini