Travel

Telat 2 Menit, Antonis Lolos dari Ethiopian Airlines yang Jatuh

Antonis merasa jengkel karena terlambat ke bandara.

Dany Garjito

Ilustrasi penumpang pesawat. (Pixabay)
Ilustrasi penumpang pesawat. (Pixabay)

Guideku.com - Tak ada yang tahu kapan maut menjemput. Dan ketika memang belum waktunya kamu kembali, maka kamu akan selamat dari maut, entah bagaimana caranya. Seperti kisah orang yang lolos dari maut jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ini.

Antonis Mavropoulos, seorang warga negara Yunani, bisa dikatakan satu-satunya penumpang selamat dari pesawat Ethiopian Airlines.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pesawat Boeing 737 Max 8 milik Ethiopian Airlines itu terjatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Bole, Addis Ababa Ethiopia ke Nairobi, Kenya, Minggu (10/3) akhir pekan lalu.

Pesawat Ethiopian Airlines jatuh bersama 149 penumpang dan delapan awak di kota Bishoftu, 62 kilometer dari ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.

Ilustrasi bandara. (Unsplash/Yeray Sánchez)
Ilustrasi bandara. (Unsplash/Yeray Sánchez)

"Aku adalah pria beruntung. Aku adalah penumpang pesawat itu, tapi karena ketinggalan, aku tak ikut menjadi korban," tulis Antonis di status Facebook miliknya yang dikutip News.com.au, Senin (11/3/2019).

Tadinya, Antonis merasa jengkel karena terlambat ke bandara untuk diterbangkan Ethiopian Airlines ke Nairobi.

Ia menuturkan, Minggu pagi hendak ke Nairobi Kenya untuk mengikuti pertemuan tahunan program lingkungan PBB. Antonis sendiri merupakan Presiden Asosiasi Limbah Padat Internasional.

"Saya marah karena tidak ada yang membantu saya mencapai gerbang bandara tepat waktu," ujar Antonis.

BACA JUGA:

Mama Aku Cinta Kamu dan 6 Kalimat Terakhir Sebelum Pesawat Jatuh

Have a Save Flight dan 5 Ucapan Ini Berarti Banget Buat Pramugari

Mereka yang Selamat dari Bencana di Indonesia di Tahun 2018

Antonis baru sampai ke pintu gerbang bandara, terlambat dua menit dan pintu pesawat pun telah ditutup. Ia sempat meminta pintu pesawat dibuka agar bisa masuk. Namun, polisi justru membawanya ke kantor keamanan.

"Petugas mengatakan kepada saya untuk tidak memprotes, tetapi untuk berdoa kepada Tuhan karena saya adalah satu-satunya penumpang penerbangan ET 302 yang tak hilang," kenangnya.

Sebagai informasi, pesawat penerbangan ET 302 menuju Nairobi, Kenya itu meninggalkan bandara Bole di Addis Ababa pada pukul 8.38 pagi waktu setempat. Namun, pada 8.44 pagi otoritas layanan navigasi kehilangan kontak pesawat itu.

"Operasi pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung dan kami tidak memiliki informasi yang dikonfirmasi tentang selamat atau kemungkinan korban," ungkap maskapai itu dalam sebuah pernyataan.

Kantor perdana menteri langsung mengirimkan bela sungkawa melalui Twitter untuk mereka yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines.

Ethiopian Airlines adalah maskapai pelat merah milik negara serta operator paling besar di benua Afrika. Tahun lalu, Ethiopian Airlines menerbangkan 10,6 juta penumpang.

Kecelakaan besar terakhir pada Januari 2010, ketika penerbangan dari Beirut, ibu kota Lebanon, turun tak lama setelah lepas landas.

Sementara BBC melaporkan bahwa tidak ada penumpang yang selamat dalam kecelakaan di Bishoftu ini.

Di antara para penumpang, terdapat 19 orang adalah pekerja di PBB dan organisasi yang berafiliasi dengan PBB.

Lebih dari 4700 pejabat telah berkumpul di Nairobi untuk Majelis Lingkungan PBB dari 11 hingga 15 Maret.

Sedangkan di antara penumpang pesawat nahas tersebut, terdapat pula warga negara Indonesia.

SUARA.com/Reza Gunadha

Berita Terkait

Berita Terkini