Food

Semeleh, Rahasia Soto Daging Sapi Bu Pujo Begitu Memikat

Cita rasa magis dari sajian penuh cinta.

Galih Priatmojo | Aditya Prasanda

(Guideku.com/Adit)
(Guideku.com/Adit)

Guideku.com - Aroma nan sedap merekah dari kepulan bumbu rempah yang tengah dimasak di dalam baskom. Di antara wewangian masakan yang menelusup lewat langit-langit lantai 2 kios timur Pasar Beringharjo siang itu, tampak pelanggan bergantian menghampiri warung dengan corak biru muda nan khas di salah satu sudutnya.

Sudut itu Warung Soto Daging Sapi Bu Pujo yang termahsyur dengan kelezatannya.

(Guideku.com/Adit)
(Guideku.com/Adit)

 

Cita rasa melegenda dari generasi ke generasi

Hanya sedikit warung makan yang dapat bertahan hingga puluhan tahun dan memiliki pelanggan yang beregenarasi turun temurun dan Warung Soto Daging Sapi Bu Pujo salah satunya.

Bayangkan jika kamu kali pertama diperkenalkan kelezatan seporsi soto daging sapi Bu Pujo oleh ibumu, lantas belasan tahun kemudian, sebuah keputusan penting harus diambil. Kamu memilih berkeluarga, memiliki tiga orang anak, dan kamu mengajak keluarga kecilmu makan di warung soto yang sama, dengan cita rasa yang sama dan dihidangkan oleh orang yang sama?

Hal itulah yang terjadi pada Bambang, seorang pelanggan setia Bu Pujo yang juga berprofesi sebagai pedagang di Beringharjo.

Ia mengaku mulai menyantap soto daging sapi Bu Pujo kala mengikuti ibunya berjualan ke Pasar Beringharjo.

Tahun 1998, kala itu Bambang masih duduk di bangku SMA, tak pernah ia menyangka hingga hari ini memiliki seorang istri dan tiga orang anak, perasaannya tak sekalipun berubah menyoal cita rasa soto daging sapi Bu Pujo.

''Dari SMA hingga saya punya tiga anak, saya masih makan soto disini, mas. Bumbu dan porsinya nggak berubah,'' ujar Bambang.

Ia menyebut secara spesifik dari porsi sajian, bentuk mangkuk yang kecil, cita rasa soto Bu Pujo nan sederhana dan magis, hingga tampilan sendok Bu Pujo yang tak berubah sama sekali dari tahun ke tahun.

''Mangkuknya, bumbunya, bahkan sendoknya yang mirip sendok ronde ini nggak berubah sama sekali, mas,'' terang Bambang berbinar.

Saat kami menanyakan apa cita rasa spesifik yang membuat Bambang dan keluarganya tak dapat berpindah ke pedagang soto lainnya, ia menyebut:

''Saya yakin ada bumbu rempah khas yang nggak bisa saya temukan di soto lain, pokoknya beda aja,'' tegas Bambang.

(Guideku.com/Adit)
(Guideku.com/Adit)

 

Tim Guideku.com mencicipi langsung kelezatan soto daging sapi Bu Pujo dan mengamini apa yang Bambang dan keluarganya rasakan.

Mangkuk kecil dengan nasi secukupnya itu berkelindan dengan potongan daging sapi, potongan tauge, remahan kol, dan racikan kuah gurih nan serba secukupnya, tidak lebih, tidak pula kurang.

Cita rasanya yang magis belakangan kami ketahui berasal dari proporsi bumbunya yang ditakar secara seimbang dan proses pengolahannya yang konsisten menggunakan tungku api.

Jika kamu menjadikan soto ini sebagai menu makan pembuka hari itu, maka dapat dijamin kamu akan merasa belum tercukupi dan butuh porsi tambahan persis seperti yang Bambang lakoni nyaris setiap hari.

Namun jika kamu menjadikan soto daging sapi Bu Pujo sekadar selingan untuk menemani makan siangmu, maka porsi tersebut lebih dari cukup.

Terlebih saat dilengkapi es campur Bu Pujo, obat pelepas penat dan dahaga kala siang meradang. Dijamin, minuman yang diramu dari perpaduan potongan daging kelapa muda, cendol, sirup merah dan santan ini akan membuat pengalaman belanjamu di Pasar Beringharjo lengkap dan sempurna.

Saat kami temui, Bu Pujo yang hari ini menginjak usia 69 tahun mengaku membutuhkan sekitar 7 kilogram daging sapi setiap harinya, berkelindan dengan rempah-rempah yang didatangkan langsung oleh pedagang sayur Beringharjo.

''Masaknya tetap pake tungku, dan saya masih menggunakan takaran bumbu yang sama, 7 kilogram daging sapi ditambah bumbu rempah lainnya,'' ungkap Bu Pujo.

(Guideku.com/Adit)
(Guideku.com/Adit)

 

Tak heran, beragam selebritis dan seniman Tanah Air macam Soimah, Didi Ninik Towok, Ivan Gunawan hingga pejabat pemerintahan seperti Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti dan Andi Malarangeng rela blusukan ke warungnya demi menikmati seporsi sajian legendaris Bu Pujo.

Semeleh, rahasia awet Bu Pujo

27 tahun berdiri, Bu Pujo mengaku tak sekalipun pernah diusik preman ataupun penguasa pasar setempat.

Ia mengaku, kerap membagikan secara cuma-cuma hidangan sotonya pada siapa pun pelanggan yang mengalami kesulitan finansial, dari para perminta-minta, hingga tunawisma yang singgah ke warungnya.

''Selama ini jika ada orang minta-minta ke warung saya, pasti selalu saya beri soto,'' terang Bu Pujo.

Jika Bu Pujo enggan menyebut secara spesifik rahasia di balik cita rasa legendaris soto miliknya, tak menutup kemungkinan sikap welas asih dan semeleh (berserah pada yang Kuasa) yang dilakoni Bu Pujo punya andil besar terhadap karirnya yang dihormati di jagad kuliner.

Selain itu, tentu saja pilihan Bu Pujo untuk menanggalkan angan-angannya melanjutkan kuliah dan mengikuti saran sang bapak berjualan soto turut mengasah instingnya meracik soto selama bertahun-tahun.

Sebelum membuka warungnya yang legendaris di lantasi 2 kios timur Beringharjo tahun 1991, Bu Pujo membantu mendiang ayahnya berjualan soto dari satu tempat ke tempat lainnya.

''Tahun 75 ikut bapak berjualan soto, saya disuruh bapak ikut jualan meski ada hasrat ingin kuliah. Akhirnya saya ikut bapak. Kami berpindah-pindah dari lantai dasar Shopping hingga akhirnya sepeninggal bapak, tahun 91' saya buka warung disini,'' kenang Bu Pujo.

Keputusan Bu Pujo tepat, dan saran sang ayahanda mengarahkannya mengikuti jalan takdir Bu Pujo sebagai salah satu peracik soto terbaik di Yogyakarta.

Waktu juga yang akhirnya membuktikan, di tengah gempuran beragam kuliner dan soto yang menjamur di Yogyakarta, Bu Pujo tak pernah kehilangan pelanggannya alih-alih semakin beregenerasi turun temurun.

Saat kami tanya apa yang mebuatnya tetap konsisten berjualan soto dan tidak menambah menu lain seperti bakso dan nasi rames dengan mantap ia menjawab:

''Kalo terlalu banyak menu jadi kurang fokus mas, nggak mantap,'' tandas Bu Pujo.

Untuk menikmati seporsi soto daging sapi Bu Pujo, sobat traveler hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 12.000.

Sementara untuk menyesap kesegaran es campurnya, sobat traveler hanya perlu mengeluarkan uang Rp 5.000 saja.

Harga yang sangat rendah hati untuk semangkuk menu legendaris dengan cita rasa magis!

 

 

Berita Terkait

Berita Terkini