Food

Kisah Penyandang Disabilitas dan Transgender Berlatih jadi Barista

Dari kopi menjelma mimpi. Kopi membawa harapan bagi masa depan mereka lewat Barista Inklusif.

Dany Garjito | Amertiya Saraswati

Cupable, Tempat Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)
Cupable, Tempat Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)

Guideku.com - Pada kunjungan Guideku.com ke Kafe Cupable di Pusat Rehabilitasi YAKKUM Yogyakarta, Rabu (13/12/2019), kami juga berkesempatan untuk mengobrol dengan para peserta pelatihan Barista Inklusif.

Fyi, pelatihan Barista Inklusif sendiri merupakan pelatihan yang ditujukan pada mereka penyandang disabilitas dan transgender.

Lewat pelatihan selama 6 minggu lamanya, para peserta diharapkan dapat memahami segala sesuatu tentang dunia kopi, lengkap dari hulu ke hilir.

Yup, tak cuma memahami bagaimana cara menyeduh kopi, keenam peserta yang ada juga diajari cara memilih biji, melakukan roasting, aneka teknik menyeduh kopi, hingga mempelajari bisnis kopi.

Cupable, Tempat Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)
Vania, Peserta Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)

Salah satu dari peserta tersebut adalah Vania, seorang penyandang disabilitas psikososial. Dari obrolan singkat kami, Vania bercerita kalau dia menderita keterlambatan berpikir sejak SD.

Awalnya, kondisi tersebut memang membuat Vania merasa putus asa dan sempat mengurung diri selama 2 bulan lamanya.

Namun, didorong orangtua dan kakaknya, Vania pun akhirnya memilih untuk kembali keluar dari rumah.

''Caranya ya disabar-sabarin aja,'' kata Vania saat kami wawancara. ''Sekarang ikut pelatihan barista ini untuk masa depan dan membahagiakan orangtua. Biar masa depan lebih baik dari yang dulu-dulu.''

Peserta Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)
Vania, Peserta Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)

Ketika ditanya kenapa memilih untuk ikut pelatihan Barista Inklusif, Vania mengaku jika dia suka kopi karena ayahnya pernah bekerja di pabrik kopi.

Tak hanya itu, Vania pun sekarang punya mimpi untuk membuka kafe kecil-kecilan selepas pelatihan usai dan dia kembali ke rumahnya di daerah Jl. Wates nanti.

''Paling susah sih buat espresso yang pakai mesin. Kalau paling jago Vietnam Drip yang dibuat pakai alat vietnam,'' jelas Vania soal kopi favoritnya.

Bahkan, Vania pun menunjukkan bagaimana proses membuat Vietnam Drip secara langsung. Sambil menjelaskan, Vania meracik secangkir kopi tersebut untuk tim Guideku.com.

Peserta Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)
Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)

Sedikit berbeda dengan Vania, ada juga Irfan yang memiliki kondisi disabilitas dan harus duduk di kursi roda.

Meski begitu, hal tersebut tak menyurutkan semangat Irfan untuk mencari pengalaman baru dengan cara berlatih dan belajar menjadi barista.

''Awalnya memang suka kopi, tapi yang instan-instan aja. Baru sekarang ada kesempatan latihan buat yang bener-bener dari biji.''

Peserta Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)
Peserta Pelatihan Barista Inklusif (Guideku.com/Amertiya)

Irfan sendiri mengaku jika dia masih mengalami kesulitan di teknik penuangan.

Namun, dia juga berkata jika latihan baru 3 minggu berjalan. Dia masih punya 3 minggu tersisa untuk mempelajari teknik yang ada.

''Setelah ini rencananya balik kerja lagi dulu, sambil terus mendalami ilmu barista,'' tambah Irfan soal mimpinya selepas lulus program pelatihan Barista Inklusif.

Wah, sukses terus buat Vania, Irfan, dan 4 peserta pelatihan Barista Inklusif lainnya, ya!

Berita Terkait

Berita Terkini