Travel

Sebut Wuhan Bak Film Walking Dead, Pria Ini Siapkan Pemakamannya Sendiri

Terjebak di Wuhan bersama istri dan anak, ekspatriat ini mengaku bagai tinggal di kota zombie.

Dany Garjito | Amertiya Saraswati

Wuhan, kota metropolitan di China. (Pixabay/@petrick_l)
Wuhan, kota metropolitan di China. (Pixabay/@petrick_l)

Guideku.com - Wayne Duplessis, seorang ekspatriat asal Kanada yang tinggal di Wuhan, provinsi Hubei, China membagikan kondisi terkini dari kota tersebut. Akibat virus Corona, kini Wuhan tampak bagai kota zombie.

Dihimpun dari laman Express, Wayne yang berusia 58 tahun berasal dari Ontario, Kanada. Di Wuhan, Wayne bekerja sebagai guru di Weiming International High School.

Wayne sudah tinggal di Wuhan selama tiga tahun bersama istrinya Emily Tjandra yang merupakan keturunan China-Indonesia dan putranya Wyatt yang berumur 15 tahun. Selain itu, putranya yang lain bernama Adrian (38) juga tinggal dekat sana.

Di sisi lain, putri sulungnya yang bernama Grace dan berusia 40 tahun tinggal di Indonesia.

Sejak virus Corona merebak dan akses ke Wuhan ditutup, Wayne Duplessis menyebutkan bahwa kota tersebut tampak bagai latar film zombie Walking Dead.

"Kau berjalan keluar ke jalan dan terasa seperti Walking Dead, semuanya benar-benar sepi dan meresahkan," ujarnya.

Apartemen di Wuhan, China, kota yang terisolasi akibat merebaknya virus Corona. (Solopos.com)
Apartemen di Wuhan, China, kota yang terisolasi akibat merebaknya virus Corona. (Solopos.com)

Sebagai tambahan, Wayne pun menyebutkan jika informasi dari pemerintah terasa tidak lengkap dan dirinya takut jika pihak berwenang tidak menganggap serius krisis ini.

"Informasi yang masuk sudah mengalami penyaringan, itu cara terbaik untuk mengatakannya... kami tidak mendapat informasi yang cukup seperti yang kami inginkan."

Yang miris, Wayne dan istrinya pun mengaku sangat takut terjangkit virus Corona sampai-sampai keduanya telah mempersiapkan pemakaman mereka sendiri.

"Jika yang terburuk benar-benar datang," tambahnya, "putriku bisa mengurus segalanya."

"Hari ini adalah Tahun Baru China. Apartemen Adrian ada di sisi lain Wuhan, tapi tidak ada transportasi publik sehingga dia sendirian di sana. Dia sudah besar, tapi ini adalah waktu di mana kau ingin bersama keluarga," imbuhnya.

"Kami mulai merasa sedikit gila."

Ilustrasi pakai masker. (Pexels/Sunyu Kim)
Ilustrasi pakai masker. (Pexels/Sunyu Kim)

Tak cuma Wayne Duplessis, seorang mahasiswa PhD asal Bangladesh bernama Nadim Mahmud juga memberikan kesaksian serupa.

"Wuhan adalah tempat yang ramai. Banyak orang tinggal di kota ini. Tapi ketika aku keluar untuk membeli sesuatu, semua jalanan sepi."

"Kau bisa menemukan satu atau dua orang, dan hanya toko retail seperti Walmart yang buka. Tempat berdoa, kuil, semuanya ditutup. Wuhan terlihat berbeda sekarang, seperti kota hantu."

Nadim Mahmud juga menambahkan jika atasan mereka di tempat kerja telah meminta semua orang untuk tidak pergi ke kantor atau dekat rumah sakit. Semua orang hanya tinggal di rumah dalam kepanikan.

"Ketika aku pergi ke luar, aku tidak bertemu orang atau aku menjaga jarak sekitar satu meter," imbuhnya. "Aku memakai masker, dan mulai hari ini aku akan memakai kacamata pelindung."

Berita Terkait

Berita Terkini