Asa Para Wanita Tuna Susila di Tengah Rencana Perombakan Red Light District

Seperti apa?

Dany Garjito | Aditya Prasanda
Rabu, 10 Juli 2019 | 13:06 WIB
(Wikimedia Commons Ben Bender)

(Wikimedia Commons Ben Bender)

Guideku.com - Hari ini, overtourism jadi momok bagi kota Amsterdam di Belanda. Membludaknya jumlah wisatawan di kota terpadat di Negeri Kincir Angin tersebut juga berdampak pada banyak ekosistem wisata di kota Amsterdam. Tak terkecuali kawasan lokalisasi, De Wallen atau yang lebih populer dikenal, Red Light District.

Wisatawan yang memadati kawasan ini tak jarang berperilaku semena-mena pada para pekerja seks di sana.

Tak heran, otoritas Amsterdam di bawah asuhan Femke Halsema, wali kota wanita pertama di kota tersebut mencanangkan beberapa rencana jangka panjang untuk melindungi hak-hak para pekerja di Red Light District.

Rencana tersebut antara lain, menutup etalase kaca tempat para pekerja seks menjajakan diri hingga yang terekstrem memindahkan Red Light District ke lokasi baru. Lantas seperti apa pendapat para pekerja seks setempat?

Foxxy, bukan nama sebenarnya, menilai penggunaan etalase khusus dapat mengurangi minat pelanggan jasa esek-esek di tempatnya bekerja. Ia masih kukuh meyakini etalase kaca merupakan tools terbaik untuk dirinya berkomunikasi dengan pelanggan. Betapa pun kian hari, ia dan para pekerja lain memperoleh aneka kekerasan dari para wisatawan termasuk kekerasan verbal.

''Jika etalase kaca ditutup, harus ada tempat khusus bagi kami. Saya khawatir inovasi tersebut akan mengurangi minat para pelanggan,'' ujar Foxxy, seperti dikutip Guideku.com dari Reuters.

Baca Juga: Bagaimana Overtourism di Belanda Membumi Hanguskan Bloemenmarkt?

'The Future of Window Prostitution in Amsterdam', kebijakan yang diprakarsai pemerintah setempat demi melindungi hak para pekerja seks di Red Light District tersebut kini tengah digodok dengan ketat bersama sejumlah pemangku kebijakan terkait.

Sebelumnya, dampak overtourism juga membuat pemerintah Amsterdam mencanangkan aturan berupa larangan bagi rombongan tur wisatawan menyambangi kawasan Red Light District.

Pelarangan tersebut secara efektif akan diterapkan pada 1 April 2020 guna mengatasi jumlah wisatawan yang membludak di kawasan lokalisasi tersebut.

Pemerintah Amsterdam berharap kebijakan ini dapat mengatasi permasalahan lain macam merebaknya prostitusi ilegal serta memperbaiki lingkungan kerja para pekerja seks yang dianggap kian memburuk.

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI
Di tengah ancaman krisis iklim dan kerusakan alam, banyak orang mulai mempertanyakan bagaimana cara menikmati liburan ta...
travel | 13:18 WIB
Kasus penembakan tersebut menjadi menjadi sorotan terhadap WNA Australia....
travel | 12:13 WIB
Dua orang pendaki tertangkap pada 15 Juni 2025....
travel | 12:50 WIB
Penetapan Dataran Tinggi Dieng sebagai geopark nasional disambut dengan harapan besar, terutama dari para pelaku wisata ...
travel | 11:00 WIB
Aplikasi yang baik akan membantu Anda menghemat waktu dan uang, serta meminimalkan potensi masalah selama proses pemesan...
travel | 10:00 WIB
Diketahui konten itu diunggah oleh akun media sosial TikTok....
travel | 11:15 WIB
Namun Amir meminta Pemda DIY maupun Pemkab Gunungkidul harus memperhatikan jalur-jalur alternatif....
travel | 10:00 WIB
Angela Gilsha mengaku sempat datang ke sana....
travel | 13:22 WIB
Terdapat kenaikan sebesar 8,92 persen dari total kunjungan sebanyak 3.223.229 kunjungan....
travel | 14:27 WIB
Menurutnya peringatan perjalanan dari Australia ini adalah sebuah risiko, namun wisatawan manapun akan aman di Bali jika...
travel | 14:09 WIB